Sikap Kepada Musuh
Sikap Kepada Musuh – Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Amsal 25:11-22; Roma 12:9-21
“Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu” (Ams. 25:21-22).
Musuh berarti seseorang yang kita benci karena sesuatu hal yang telah dilakukannya, sehingga menyebabkan kita terluka dan menderita. Saat seseorang sedang saling bermusuhan berarti di antara mereka tidak mampu menemukan titik kasih sebagai pijakan untuk mengerti dan mengampuni. Pada tingkat tertentu kebencian dapat berubah menjadi keinginan untuk menyingkirkan dan meniadakan sebab dianggap lawannya menjadi penghalang utama atau membahayakan dirinya.
Karena itu kebencian sering bergandengan erat dengan kemarahan dan dendam. Kebencian menjadi seperti api yang berkobar, dan musuh menjadi seperti minyak yang siap untuk menerima nyala api kebencian tersebut. Namun karena mereka berdua sadar hidup dalam suatu masyarakat, maka mereka berupaya untuk menjaga agar percikan api dan minyak tidak bertemu secara langsung.
Itu sebabnya mereka saling menjaga jarak, menahan diri dan tidak terlibat komunikasi. Walau di luar tampak dingin, tetapi di dalam hati mereka masing-masing tersimpan bara api yang siap meledak. Mereka mengharapkan lawannya mengalami suatu celaka karena mereka tidak mampu membalas suatu kesalahan atau kejahatan yang telah dilakukan oleh lawan. Itu sebabnya ketika lawan mereka mengalami suatu musibah atau celaka, maka mereka akan menganggap Allah telah menghukum dan membalas perbuatannya. Doa dari seseorang yang sedang membenci bersifat destruktif kepada yang didoakannya. Motif doa atau harapannya adalah hukuman dan celaka bagi para lawannya.
Mungkin benar bahwa lawan kita telah melakukan beberapa hal yang sangat menyakitkan. Lawan kita berhak memperoleh hukuman atas perbuatannya. Tetapi membenci lawan sebenarnya suatu sikap yang melukai diri sendiri lebih dalam dari pada tindakan lawan tersebut kepada kita. Dengan membenci, berarti kita telah menyetujui seluruh energi rohani disedot habis oleh api kemarahan. Itu sebabnya saat kita membenci, kita kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih dan hati yang damai.
Padahal kita tahu bahwa pikiran yang jernih dan hati yang damai merupakan kekayaan utama bagi kemanusiaan kita. Tanpa mampu berpikir jernih dan hati yang damai, kita kehilangan kebahagiaan yang utama. Semakin kita menuntut pembalasan dengan penuh kemarahan, kita kehilangan perasaan damai dan bahagia. Karena itu kebencian merupakan tindakan yang destruktif bagi diri sendiri. Kebencian menimbulkan berbagai macam penyakit fisik, psikis dan rohani. Jalan keluar dari belenggu kebencian adalah pengampunan yang tulus. Sebab dengan pengampunan, kita telah memutuskan dari belenggu kemarahan dan keinginan untuk membalas.
Apabila lawan kita melakukan hal-hal yang jahat dan keji, maka dalam pengampunan kita tidak lagi memiliki keinginan untuk membalas dendam. Sebaliknya kita dipanggil untuk menyerahkan kepada Allah. Sebab pembalasan adalah hak Allah. Di Rom. 12:19, rasul Paulus berkata: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan”. Kemarahan dan dendam tidak pernah menyelesaikan masalah, tetapi keadilan dan rahmat Allah mampu membawa suatu penyelesaian yang sempurna.
Tentu Allah akan menghukum setiap orang jahat termasuk lawan kita dengan caraNya. Pembalasan Allah dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Namun bagaimana sikap kita menghadapi lawan yang sedang menerima pembalasan dari Allah? Apabila sikap kita berbahagia dan puas sebab lawan kita telah mengalami suatu hal yang buruk, maka sebenarnya spiritualitas kita tidak berbeda jauh dengan kejahatan yang pernah dilakukan oleh lawan kita. Sikap kita tersebut mencerminkan sikap rohani yang masih dikuasai oleh kebencian dan dendam. Karena itu kita juga layak menerima pembalasan dari Allah atas sikap kita yang duniawi tersebut. Spiritualitas iman Kristen tidaklah demikian. Kita dipanggil Allah untuk kaya dalam pengampunan sebagaimana Allah telah mengampuni setiap dosa-dosa kita yang begitu besar.
Baik rasul Paulus maupun penulis kitab Amsal dengan tegas menyatakan: “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu” (Ams. 25:21-22; Rom. 12:20). Dalam kasih Kristus, kita hanya diperbolehkan membenci perbuatan jahat dari lawan kita, tetapi kita harus mengasihi keberadaan dirinya. Sebaliknya sikap orang-orang duniawi adalah mereka membenci perbuatan jahat sekaligus membenci keberadaan diri dari para lawannya. Itu sebabnya mereka tidak memiliki belas-kasihan sedikitpun terhadap lawan yang sedang tidak berdaya dan mengalami sekarat maut. Allah di dalam Kristus tidak pernah membenci setiap orang berdosa, tetapi perbuatan mereka yang jahat.
Kita tidak dapat menghindari kebencian dan permusuhan yang dilakukan orang lain. Tetapi kita dapat menghindari sikap membenci dan memusuhi orang lain. Karena itu yang terpenting adalah sikap kita, bukan sikap orang lain. Selama kita tidak terperangkap dalam kebencian dan permusuhan, maka kita telah mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yaitu sikap kasih yang tulus. Itu sebabnya rasul Paulus memberi nasihat agar kasih yang kita praktekkan itu jangan pura-pura. Kasih yang pura-pura bersifat manipulatif. Dari luar tampak saleh, tetapi di dalam batin ternyata penuh dengan kebencian dan kejahatan.
Karena itu kasih kita yang pura-pura akan melahirkan sikap permusuhan dan penolakan dari orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya ketika kasih kita dilandasi oleh ketulusan, maka setiap orang termasuk lawan akan timbul perasaan hormat. Para lawan akan kehabisan kata ketika kita mengasihi mereka sebagai saudara dan mendahului dalam memberi hormat. Demikian pula para lawan tidak mampu menyerang diri kita ketika kita menampilkan sikap yang rendah-hati dan tidak memamerkan apa yang kita miliki seperti: kekuasaan, kekayaan dan kepandaian kita. Itu sebabnya rasul Paulus memberi nasihat agar kita dapat hidup sejahtera bersama orang lain, yaitu: “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” (Rom. 12:16). Lawan kita akan bertambah banyak ketika kita berlaku sombong, melukai dan memojokkan mereka.
Doa:
Roh Kudus, terangilah hati kami dengan kasih Kristus. Karena kasih Kristus yang akan memampukan kami untuk mengasihi setiap musuh dan mendoakan mereka.
Bebaskanlah diri kami dari kemarahan dan kebencian yang akan menyebabkan RohMu meninggalkan diri kami. Sertailah kami dengan terang kasihMu.
Amin.

Pingback:Sikap Kepada Musuh « Chronicle