Tag Archives: Tuhan Yesus Kristus

Integritas

Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:17-18)

Ketika Raja Nebukadnezar membangun patung untuk disembah oleh semua orang yang ada di wilayah Babel; Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak untuk menyembah patung tersebut. Walaupun diancam akan dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, mereka tetap berpegang teguh pada iman mereka. Integritas mereka tidak tergoyangkan, walaupun bahaya mengancam nyawa mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan sanggup melepaskan mereka dari bahaya yang ada. Bahkan merekapun siap mati jika pertolongan tidak datang juga. Mereka tidak rela melepaskan iman mereka demi menyembah patung tersebut.

Dari kitab Daniel pasal 3 ini kita tahu bahwa pada akhirnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Bahkan karena begitu marahnya Raja Nebukadnezar, perapian dipanaskan dengan begitu luar biasa.

Tetapi apa yang terjadi kemudian adalah kita melihat pertolongan Tuhan turun bagi Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Tuhan tidak mempermalukan mereka. Sehelai rambutpun tidak ada yang terbakar. Bahkan Raja Nebukadnezarpun memerintahkan semua orang agar menghormati Allah mereka.

Kisah di atas merupakan gambaran dari kehidupan umat percaya yang sedang menghadapi berbagai macam pencobaan. Walau tekanan sekeras apapun yang menimpa kita, kita harus belajar tetap mengandalkan Tuhan dan percaya kepadaNya.

Tidak sedikit juga umatNya yang melepaskan kepercayaan mereka demi kelepasan yang ditawarkan oleh dunia ini. Begitu banyak alternatif/jalan keluar yang memang ditawarkan oleh dunia ini, yang tentunya tidak semuanya berkenan kepadaNya.

Ketika kita mulai kompromi dengan dunia ini demi kelepasan dari masalah kita, maka kita akan keluar dari lingkaran anugerahNya.

Seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jangan lepaskan iman kita. Tetap teguh berpegang pada iman yang telah kita jalani. Karena ketika kita menjalani masalah/pencobaan seberat apapun, dan kita menjalaninya bersama dengan Allah, maka kita akan melihat tangan Tuhan turun menolong kita.

Integritas yang dimiliki oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego harus kita miliki saat ini juga. Tidak ada kata kompromi dalam kehidupan bersama dengan Tuhan.

Sumber: Pelita Hidup

Leave a comment

Abide With Me

  • Abide with me; fast falls the eventide;
    The darkness deepens; Lord, with me abide;
    When other helpers fail and comforts flee,
    Help of the helpless, oh, abide with me.
  • Swift to its close ebbs out life’s little day;
    Earth’s joys grow dim, its glories pass away;
    Change and decay in all around I see—
    O Thou who changest not, abide with me.
  • I need Thy presence every passing hour;
    What but Thy grace can foil the tempter’s pow’r?
    Who, like Thyself, my guide and stay can be?
    Through cloud and sunshine, Lord, abide with me.
  • I fear no foe, with Thee at hand to bless;
    Ills have no weight, and tears no bitterness;
    Where is death’s sting? Where, grave, thy victory?
    I triumph still, if Thou abide with me.
  • Hold Thou Thy cross before my closing eyes;
    Shine through the gloom and point me to the skies;
    Heav’n’s morning breaks, and earth’s vain shadows flee;
    In life, in death, O Lord, abide with me.
Leave a comment

DOA: Antara Teori dan Praktek

oleh: Ev. Paul Santoso Hidayat, S.Th., M.Th.

Saya pernah mengalami kesulitan nafas. Sesudah terserang batuk agak lama, lalu saya mengalami sesak nafas karena alergi. Selain sangat menyiksa, juga pengalaman sewaktu nafas saya menjadi sesak, pendek dan terengah-engah itu menimbulkan rasa ngeri. Sekaligus saat itu saya menyadari betapa berharganya hidup sehat yang dapat bernafas tanpa masalah.

Berdoa sering diumpamakan sebagai bernafas secara rohani. Jika kita benar-benar menerima gambaran itu, tentu kita akan menghargai betapa besarnya anugerah yang telah Allah berikan kepada umat-Nya dengan memberikan hak istimewa untuk boleh berdoa kepada-Nya. Dan, betapa besar resiko yang kita datangkan kepada hidup apabila kita mengabaikan doa dalam kehidupan kita. Sungguhkah seperti itu pertimbangan dan perlakuan kita tentang doa? Agaknya tidak selalu nyambung teori dengan praktik. Mengapa bisa begitu? Mungkin karena pemahaman teorinya pun hanya sambil lalu, tidak dalam, sehingga tidak sungguh dihayati!

Bagaimana kaitannya sampai doa jadi demikian hakiki dan vital? Doa terkait dengan fakta bahwa Allah yang kasih adanya itu menciptakan manusia sebagai makhluk yang berpotensi menyambut dan merespons Allah dalam kasih juga. Manusia disebut Allah sebagai gambar-rupa Allah. Sedangkan Allah, ketika menciptakan manusia sebagai gambar-rupa-Nya itu menyebut diri-Nya, “kita.” Banyak sekali isi Alkitab menegaskan bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah yang berhakikat relasi. Allah kasih adanya! Ini yang dalam theologi Kristen diterjemahkan sebagai doktrin Tritunggal. Di dalam hakikat kekal-Nya, Allah adalah Bapa, Putra, Roh yang berkasih-kasihan. Jadi sebagai gambar-rupa Allah, manusia pun memiliki kekhususan yaitu merupakan makhluk relasi. Dalam relasi dirinya, relasi sosialnya, relasinya dengan alam, manusia sebenarnya sedang mengungkapkan hakikat terdalamnya sebagai makhluk relasi yang berawal dari relasinya dengan Allah. Fakta Allah dan fakta manusia inilah yang menyebabkan doa merupakan suatu hal yang sangat hakiki dan vital dalam keberadaan manusia. Dalam pemahaman ini bahkan doa lebih hakiki dan vital daripada diartikan sebagai nafas rohani. Doa adalah ungkapan dari relasi kita dengan Allah. Doa adalah komunikasi atau dialog manusia dengan Allah. Ketidaklancaran kehidupan doa adalah gejala ketidakberesan relasi kita dengan Allah.

Jika demikian hakiki dan vital, mengapa pada kenyataannya kita tidak spontan menghasrati doa? Mengapa kehidupan doa kita (komunikasi kita dengan Tuhan) tersendat – senin-kamis – tidak intim pada segala waktu? Karena menurut Alkitab relasi itu tidak lagi harmonis. Kejatuhan seluruh umat manusia ke dalam dosa pada intinya adalah memilih untuk tidak berhubungan dengan Allah. Tidak heran apabila kita tidak menghasrati doa sebab pada intinya kita tidak memiliki hasrat yang murni akan Allah. Syukurlah bahwa Allah tetap berhasrat untuk bersekutu dengan ciptaan-Nya ini. Itu sebab Ia mendirikan perjanjian dengan Abraham yang pada puncaknya menghasilkan pendamaian antara diri-Nya dengan umat-Nya di dalam Yesus Kristus. Dengan pendamaian yang Yesus Kristus hasilkan, pulihlah relasi kita dengan Allah, terbit pula hasrat kuat kita akan Allah – kesadaran dan kerinduan untuk berdoa yang melaluinya kita menumbuhkan relasi kasih kita dengan Allah.

Dengan demikian berdoa adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripada sekadar cara untuk meminta berbagai berkat bagi hidup atau untuk mengalami kuasa Allah bagi berbagai kebutuhan hidup. Inti doa adalah relasi, adalah komunikasi dengan Allah. Hanya bila dalam komunikasi kita dengan Allah, ada tempat bagi Allah mengkomunikasikan diri-Nya juga pada kita, barulah doa itu menjadi bagian dari relasi yang riil. Inilah alasan mengapa Tuhan Yesus mengaitkan keadaan dipenuhi oleh firman sebagai syarat bagi doa yang dikenan Allah. Dan hanya dengan demikianlah semua berkat dari relasi kita dengan Allah yaitu berbagai akibat yang timbul dari pengenalan kita yang tumbuh mendalam akan Allah, atau akibat dari semakin leluasanya Allah hadir dalam kehidupan kita, akan dapat kita alami. Dan segala berkat itu kita terima bukan karena kita memiliki iman yang hebat atau gigih dalam mengklaim Allah, melainkan karena iman-harap-kasih kita dalam doa menyatu dengan kasih-hikmat-kuasa-rencana-Nya bagi kita.

Pengertian doa yang seperti inilah yang kita jumpai dalam berbagai kisah nyata kehidupan doa para tokoh Alkitab. Pada orang seperti Abraham, Musa, Samuel, Daud, Hizkia, Yeremia, Daniel, Yesus, para rasul, Paulus, doa bukan soal cara, aturan, formula, tetapi komunikasi yang sangat menentukan vitalitas kehidupan dan karya mereka. Itu sebabnya bukan kebiasaan berdoa lima atau tujuh kali dalam sehari yang memberdayakan doa mereka, tetapi keintiman hubungan dengan Allah yang membuat mereka memiliki daya doa yang memenuhi seluruh kehidupan dan karya mereka sepanjang hidup. Tidak heran apabila doa bukan sesuatu yang menjadi beban bagi mereka melainkan merupakan suatu kesukaan. Juga, apabila mereka begitu dalam merasakan kebutuhan untuk berdoa dan untuk didoakan.

Alkitab dan doa, atau doa yang interaktif dengan firman Allah, adalah doa yang benar yang menjadi semarak dari realita relasi yang intens antar Allah-manusia secara timbal balik. Bagaimanakah doa Anda? Nafas Anda sajakah yang mendengus di dalamnya, atau terdengar juga nafas bicara Allah di dalamnya? Dalam hubungan yang intimkah Anda dengan Allah? Bagaimana kualitas relasi Anda dengan Allah terdengar dalam irama, sikap, isi dan lingkup doa Anda sehari-hari? Bagaimana perhatian, arah hati, gerak misi Allah tercermin dalam doa-doa Anda?

Doa kita hendaknya mencirikan bahwa seluruh hidup kita adalah dari-oleh-untuk Allah saja!

Leave a comment

Siapakah Pewaris Sorga?

Teks: Matius 5 : 1 – 12  Lukas 6 : 20 – 26
Matius 7 : 21 – 23
Oleh : Ev.Andereas Dermawan

Apakah  anda tertarik  menjadi  pewaris  Sorga?   Jika  jawabnya :  ya !  Maka saudara  akan serius mengikuti  terus  apa  yang  akan  diuraikan dalam  tulisan  ini. Mengapa  saya  memberikan statement seperti   ini  saudara? Karena  jujur  kalau melihat  realitas  yang  ada,  manusia  di dunia  ini sudah tidak  lagi  menghiraukan  masalah  Sorga.  Umumnya  manusia  sudah  merasa  yakin  dengan  prinsip  yang  sudah  diterima  secara  universal  di dunia  ini  yaitu   masalah  SORGA adalah  masalah  AGAMA. Sehingga  agama  bagaikan  perusahaan  ASURANSI  JIWA   yang  menjual  polis  asuransi yang menjamin jiwa  anggota/ pengikutnya.  AGAMA  juga  mengeluarkan  kartu  anggota yang  se olah olah polis agama yang  menjamin  manusia  untuk  mendapatkan  SORGA. Anda  boleh  saja  memprotes pernyataan  saya  ini!  Tapi  saya  mengemukakan  fakta  fakta  yang  nyata  terjadi  di dunia  ini. MANUSIA  DI DUNIA  INI  LEBIH  MEMILIH  BERPIKIR  SECARA  PRAGMATIS.  CONTOHNYA : Misal   Bila  presiden  SBY  menawarkan  kepada  anda  menjadi  pewaris  tahta  dan  hartanya  dan  memberitahu  cara  caranya,  maka  saya  yakin  rumah  presiden  SBY  di Cikeas  akan  dijubeli   oleh  kerumunan  orang  berkilo kilo  meter  panjangnya. Dan  yang  lebih  ironisnya  lagi  untuk  uang  angpao/ zakat/ sumbangan  yang  biasa  dibagikan  pada  hari  raya  keagamaan seperti  hari  raya   iedul  fitri,   natal  dan  hari  raya  Imlek  yang jumlah  uang  per  orang  berkisar  ratusan  ribu itupun  dibanjiri  oleh  lautan  manusia  meskipun  akan  menimbulkan  korban  luka luka  maupun  korban  jiwa.   Mengapa  orang  mau  bekorban untuk  itu ? Sebab  bagi  mereka kehidupan  di dunia  ini jauh  lebih  nyata.  Dan  untuk  hidup  di dunia  ini tidaklah  bisa  disangkal  haruslah   memiliki   2  hal   yaitu  Jabatan  dan  Uang.  Semakin  tinggi  jabatan  seseorang  semakin  banyak  pula  uang  yang  didapat,  atau  bisa  juga  dibalik   dengan  banyaknya  uang  semakin  tinggi   pula  jabatan  yang  diperoleh,  bukankah  jabatan  zaman  sekarang  ini  bisa  dibeli  dengan  uang?  UANG  DAN  JABATAN  BAGAIKAN  2  SISI  MATA UANG  DALAM  LEMBAR UANG YANG SAMA!  Uang  dan  jabatan/pekerjaan dalam  bahasa  sehari  harinya  kita  menyebutnya   dengan  kata  NAFKAH. JADI  MENCARI  NAFKAH  SEOLAH  OLAH SAMA DENGAN MENCARI  SORGA.

MENCERMATI  KEADAAN  ZAMAN  SEKARANG  INI, BUKANKAH  FAKTA  FAKTA  YANG SAYA  UNGKAPKAN INI  MERUPAKAN  KENYATAAN.  MANUSIA  TIDAK  TERTARIK  MEMBICARAKAN  SORGA, BAGI  MEREKA  SORGA  INI  ADALAH  HIDUP NYATA  mencari  nafkah   DI DUNIA  INI. Itulah  sebabnya  manusia  bekerja  keras  untuk  menaklukan  dunia  ini, padahal  mereka  tidak  menyadari  bahwa   merekalah   yang   ditaklukan  oleh  dunia   ini  dengan  sistim   kebiasaan  dunia  yang  sudah  mendarah  daging. KEDATANGAN  KRISTUS JUSTRU  INGIN  MENJUNGKIR  BALIKAN  SISTIM  DUNIA  INI  DAN  MENGGANTIKANNYA  DENGAN  SISTIM  SORGA YANG JAUH  BERLAWANAN  DENGAN  SISTIM DUNIA INI.  Maka  tidaklah  mengherankan kalau  manusia  tidak tertarik mengikut Yesus  karena  sangat  berlawanan  dengan  keinginan  dunia yang  sangat menggiurkan.

 

JUDUL  ARTIKEL  DI ATAS  BERJUDUL :  SIAPAKAH  PEWARIS  SURGA?   Mungkin  akan  banyak  orang  akan  sinis  terhadap  saya  bila  membaca  judul  ini.  Kata kata  sinis  yang kerap  penulis  dapatkan  antara  lain :  “ Anda  memangnya  pernah  ke Surga? “  Tentu  saya  harus  jujur  mengatakan bahwa saya  belum  pernah  pergi  ke surga.  Tapi  saya  mau  bawa berita  gembira  bahwa  saya  sudah  mengetahui   siapa  pemilik  surga  dan  siapa  yang  dipilih  untuk  mewarisinya. Darimana  saya  dapat  mengetahuinya?   Jawabnya  sederhana  yaitu  saya  tahu  dari ucapan  Sang  Pemilik  Surga  sendiri  yang  secara  nyata  ditulis  dalam  Alkitab. Masalahnya  saudara  mau  mempercayai  dengan  iman  atau  tidak?  Kalau saudara mempercayai  dengan  iman, haruslah ada tindakan atau bukti  iman dengan mengikuti/mentaati  apa  yang  diucapkan  oleh  Yesus.

KETIDAK TERTARIKAN  MANUSIA  ATAS  WARISAN  SURGA  YANG  DIBAWA  OLEH  YESUS  MEMBUKA  PELUANG  BAGI  PARA  NABI  NABI  PALSU  YANG  DIKOMANDANI  OLEH  IBLIS  DALAM  RUPA  ANTIKRIS ZAMAN  INI,  DENGAN  MENAWARKAN   SORGA  ALTERNATIVE,  SORGA  IMITASI  YANG  SECARA  KASAT  MATA  BISA  DILIHAT  OLEH  MATA  LAHIRIAH  MANUSIA  BERUPA   BERBAGAI  KENIKMATAN  DUNIA, BERKAT  KELIMPAHAN  MATERI, SUKSES  KAYA, PINTAR,  DAN PUJIAN  PRESTASI  DUNIA.  Nah  untuk tawaran  sorga  seperti  inilah  yang  diburu  manusia  di dunia  ini. Dan  jangan  kaget  para  nabi  palsu  ini  sangat  fasih  berkhotbah,  mengutip  ayat2  Alkitab  dengan  tema2  yang  disebutkan  di  atas.

MELALUI  ARTIKEL  INI  AKAN  SAYA  BERITAHU  KEPADA  SAUDARA  SEKALIAN  SIAPA   SESUNGGUHNYA  YANG    DIPILIH TUHAN  MENJADI  PEWARIS  SORGA. DAN  INGAT  APA   YANG  SAYA  SAMPAIKAN  INI  BUKANLAH  BERSUMBER  DARI  BUAH  PIKIRAN  SAYA  ATAU  DAYA  FANTASI  SAYA. TAPI  APA  YANG  SAYA  BERITAHUKAN  INI  SEKALI  LAGI   BERDASAR  PADA  UCAPAN  TUHAN  YESUS  SENDIRI  YANG  SAYA KUTIP  SECARA  LETTERLEX/ HARAFIAH  DAN BISA  DIUJI/ DICROSSCHEK KEBENARANNYA PADA ALKITAB  SAUDARA  MASING MASING. Dalam  Matius  pasal  5  ayat  1  dst, Tuhan  Yesus bukan sedang memberikan  perumpamaan  yang  umumnya  akan ditafsirkan lagi  maknanya, tetapi  dalam Matius pasal  5 ini  Tuhan  Yesus  memberikan suatu pernyataan  tegas dalam  khotbah  perdananya  yakni  : “ BERBAHAGIALAH  ORANG MISKIN  DI HADAPAN  ALLAH, KARENA  MEREKALAH  PEWARIS  KERAJAAN  SORGA”.  Inilah  jawaban saya atas artikel  tulisan  saya  di  atas.  Terserah  anda mau  percaya  atau  tidak!   NAMUN  SAYANGNYA  UCAPAN  YESUS  INI  TELAH  DIPUTAR  BALIKAN  KEBENARANNYA  OLEH  PARA  AHLI   TORAT  ZAMAN  SEKARANG.  DENGAN  MENAMBAHKAN  KATA  MISKIN  ROHANI,  YANG  SESUNGGUHNYA MERUPAKAN  BUAH  PIKIRAN  MEREKA  SENDIRI, YANG  PADA  DASARNYA TIDAK  MAU  MENERIMA  KEMISKINAN  SEBAGAI  SYARAT  UNTUK  MENGIKUT  YESUS.   MEREKA  TIDAK  MAU MELEPASKAN  SORGA  IMITASI  CIPTAAN  IBLIS  DI DUNIA  INI  BERUPA   JABATAN, KEKAYAAN, KEINGINAN  UNTUK  MENDAPATKAN  PENGHORMATAN  DAN  PUJIAN  MANUSIA.

SETELAH  MEMBACA  ARTIKEL  INI, MAKA  AKAN  TIMBUL  RESPON  SEBAGAI  BERIKUT:  1. Apakah  orang orang  miskin  itu sudah  percaya  Yesus?  Respon ini  terus terang  saja  banyak  saya  dapatkan  dari  orang orang  Kristen. Jadi  asumsi  yang  terbangun adalah  Tuhan  Yesus  adalah  monopolinya orang orang  yang  beragama  Kristen, jadi  menurut  pendapat  mereka  ibarat  orang  jualan maka  Tuhan Yesus  merupakan  stoknya  orang orang  Kristen, jadi  kalau  orang  miskin pewaris  sorga  itu  haruslah masuk  agama  Kristen  dulu.  Dan  membuka  peluang  bagi  orang  kaya untuk  membeli  stok tanda  kutip membeli  Tuhan  Yesus, tanpa  melepaskan  hartanya, karena  syarat menjadi pewaris  Sorga sudah diplintir  kebenarannya  dari  miskin  dalam  arti  sesungguhnya  menjadi  miskin rohani.

KATA  MISKIN  ROHANI  MESKIPUN  SAMPAI  SAAT  INI TIDAK  JELAS  AKAN  ARTI  MAKNANYA. Namun  kata  ini  berhasil  meredam  banyak  orang  untuk  tidak  menggubris  akan  perintah  Yesus  kepada  setiap  orang  yang  ingin  menjadi  pengikutNya.  Syarat  yang  diminta  oleh Yesus sangat  tidak  aspiratif, syarat  yang  dianggap  gila  dan  bodoh  dan  memalukan. Sebab  itu tidaklah  mengherankan  kalau  Tuhan  Yesus  mengatakan  bahwa  barang siapa  yang  malu  mengakui   dan  mengikut  Aku, Akupun  akan  malu mengakuinya  di hadapan  Bapa  kelak.

Dalam  beberapa  tulisan  saya  sebelumnya,  telah  saya  beritahukan  bahwa  keselamatan  kekal atau  menjadi  pewaris  Sorga  bukanlah  ditentukan  oleh  agama  yang  dianut  orang  tersebut,  tetapi  sangat  ditentukan  oleh  dua  hal  yaitu  : 1. Perjumpaan  manusia  dengan  Tuhan  Yesus dalam  rupa  kemanusiaannya  di dunia  ini.  2.  Orang orang  yang ada di dalam  ketidak berdayaannya, dalam hal  ini Tuhanlah  yang  telah  memilih  mereka  sebaga  representasi  kemanusiaan Yesus  di dunia  ini. Alkitab  mengatakan  bahwa  merekalah  orang  orang  pilihan Allah( Orang orang kudus/ orang orang yang telah dipisahkan dari dunia  ini). Rasul  Paulus dan  para  rasul  lainnya  mengatakan  bahwa tugas mereka justru  melayani  orang orang  pilihan  tsb. Status para rasul itu  haruslah lebih rendah dari  orang orang pilihan itu. Mereka  mengabdi  pada  orang orang  kudus tsb.  Nah di sinilah  terjadi perjungkir balikan fakta  yang diajarkan oleh para ahli torat sejak  zaman Yesus sampai dengan zaman sekarang ini.  Mereka  mengira bahwa para pemimpin agama/ pemimpin torat bersama kumpulan pengikutnya mereka  menyebut diri merekalah  sebagai  orang  orang pilihan atau  orang orang  kudus.  Itulah  sebabnya ketika Yohanes datang membawa  berita  pertobatan, mereka tidak menggubris peringatan Yohanes pembaptis yang  keras. Yohanes Pembaptis  mengatakan siapa bilang kalian adalah orang orang pilihan, kalian belumlah selamat dari hukuman Allah. Sejak zaman Yesus sampai zaman sekarang, para ahli torat selalu  menggunakan senjata  toratnya, pengetahuan keagamaannya/ kerohaniannya, bahkan dalam  perjumpaan dengan Yesus mereka datang bukan untuk mencari Sang Kebenaran, tapi  justru datang untuk mencobai/ mentest atau mencari  kesalahan Yesus  dengan  torat  karena secara penguasaan  ilmu agama mereka sangat ahli, makanya sebutannya mereka adalah  ahli ahli torat. Sedangkan  pengikut Yesus adalah orang orang miskin yang miskin juga dalam penguasaan agama. Mengapa  orang orang itu justru yang dipilih? Rahasianya hanya satu adanya perjumpaan langsung dengan Tuhan Yesus Sang Kebenaran itu. Pengetahuan agama tidak berdampak apa apa terhadap  keselamatan.

DARI  PEMAPARAN  DI ATAS  MARILAH  KITA  MELIHAT APAKAH   BERITA TENTANG  SIAPA  PEWARIS SORGA TELAH  PERNAH  ANDA DENGAR?  JANGAN  JANGAN  ANDA DIBERIKAN  INFORMASI  YANG SALAH  OLEH PARA AHLI  TORAT  MASA  KINI,  YANG  JUSTRU  MENGAMBIL  PELUANG  DARI  KETIDAK TAHUAN  SAUDARA  AKAN  BERITA INI. BERITA  TENTANG  SIAPA  PEWARIS  SORGA YANG  DIBAWA  OLEH  YESUS, MERUPAKAN  INTI  DARI  PEMBERITAAN  INJIL  TUHAN  YESUS  KRISTUS.  KARENA  BERITA  INJIL  BERISI  DUA   BERITA  YAITU  : 1.  BERITA  SUKACITA  BAGI  ORANG MISKIN  KARENA  MEREKALAH PEWARIS  SORGA.  2.  BERITA  DUKACITA  BAGI  ORANG KAYA KARENA SANGAT SUKAR BAGI MEREKA UNTUK  MENJADI  PEWARIS  SORGA DAN LEBIH  MUDAH BAGI  MEREKA  MENJADI  PEWARIS  NERAKA.

Berita  ini  Jarang diperdengarkan karena  tidak sedap  untuk didengar  oleh  orang orang di dunia ini. Bila kita  memperhatikan  2  berita  di  atas bukankah  semua  orang  di dunia ini baik secara sadar maupun tidak sadar justru  menolak  pemberitahuan dari Yesus. Kalau Yesus mengatakan  bahwa penerima Sorga adalah ORANG MISKIN. Namun realitas yang terjadi  justru  manusia menolak berita ini  manusia  bersemangat  mencari  kekayaan bahkan  memusuhi  kemiskinan! Bahkan Yesus memperjelas pemberitaan Injilnya dengan mengatakan bahwa SANGATLAH SUKAR ORANG KAYA MASUK SORGA. Tapi pemberitaan Injil  dari Yesus  inipun tetap dianggap sepi sejak  dulu  sampai  sekarang  ini. Para Imam, antek antek Antikris telah memutarbalikan berita Injil ini  dari  berita ORANG MISKIN PENERIMA SORGA  menjadi  ORANG MISKIN  ROHANI  PENERIMA SORGA  yang  menyebabkan orang orang kaya di dunia ini terkecoh dengan pemberitaan para imam imam tsb. Dengan tafsiran ini maka telah memenuhi keinginan orang kaya untuk tidak menjadi pengikut Kristus, karena syarat yang Yesus minta adalah suatu kebodohan harus melepaskan harta dan menjadi miskin, sudah kerja keras bertahun tahun atau berpuluh puluh tahun harus melepaskan harta, syarat yang gila dan bodoh. Dari ketidak puasan orang kaya untuk memenuhi syarat mengikut Yesus, maka muncullah para antikris ( Kristus palsu ) dengan memberikan alternative lain yang jauh lebih rasional dengan menambahkan kata Rohani di belakang kata  miskin. Dan  pengajaran  semacam ini sudah  berjalan  ber abad abad lamanya, sehingga syarat mengikut Yesus  yang sebenarnya justru pudar tidak terdengar,  yang  terdengar  adalah  karunia rohani, seperti  mentafsirkan  ber macam macam  bahasa rohani/ bahasa malaikat. Dewasa ini begitu santer orang  mendebatkan  nama Allah, dengan  berbagai sebutan seperti YHWH, Elohim, Yeshua Hamasiah dlsb. Padahal Tuhan Yesus dalam Matius pasal 7 sudah  memperingatkan bahwa bukan orang orang yang fasih menyebut nama Tuhan yang masuk sorga, juga  bukan orang  yang  fasih berkhotbah/ bernubuat dengan menggunakan nama Tuhan, meskipun dalam penyebutan nama Tuhan mereka mengucapkannya dengan tepat, sama sekali bukan itu syaratnya orang masuk sorga. Tetapi  sorga diberikan kepada orang orang yang  dipilih sebagai ahli warisnya. Siapakah ahli warisnya : Apakah para ahli torat? Sama sekali bukan!! Tapi surga  diwariskan kepada orang orang miskin tidak berdaya, lemah bagai  anak kecil  yang baru lahir!

Orang orang Kristen yang  terpilih oleh Yesus, bukanlah ditugaskan untuk menjadi ahli torat, tetapi ditugaskan membawa berita apa adanya. Apa isi beritanya?  Beritanya adalah :BERITA SUKACITA  ORANG MISKIN PEWARIS SORGA     DAN  BERITA  DUKACITA ORANG KAYA  SANGAT SUKAR MASUK SORGA. Berita Injil  adalah bukti kasih Allah kepada  manusia lemah tidak berdaya dalam arti sesungguhnya  bukan dalam arti  miskin rohani yang abstrak yang sulit untuk diverifikasi. RASUL PAULUSPUN  MEMPERINGATKAN  HAL YANG SAMA BAHWA SEGALA  KARUNIA  ROHANI  AKAN LENYAP, TERMASUK  ORANG  ORANG  YANG  BANGGA  DENGAN KARUNIA BAHASA MALAIKATNYA, KARENA YANG TETAP ADALAH  IMAN, HARAP DAN KASIH, DAN YANG TERBESAR DAN  PALING SUBSTANTIVE ADALAH KASIH. Banyak  orang Kristen zaman sekarang ini bertengkar, ribut untuk hal hal yang bukan substantive, sehingga mereka tidak menyadari  bahwa  apa yang mereka ributkan tidak membawa dampak apa apa terhadap keselamatan jiwa mereka. Apa yang  diberitakan bukanlah substansi Injil  itu sendiri, tapi lebih menyibukkan diri dan menghabiskan waktu hidup mereka hidup di dunia ini dengan mempelajari  doktrin  doktrin agama yang sama sekali tidak berdampak pada keselamatan kekal. Dengan mempelajari Torat dan menjadi ahli  torat bukanlah hal yang substansi. Karena Torat dalam perjanjian lama telah menjadi Injil dalam perjanjian baru dengan kedatangan Sang Injil yang hidup, Tuhan Yesus Kristus. Yang telah memilih orang orang pilihanNya yakni orang orang yang dianggap sampah atau orang orang yang paling hina sebagai tempat kediamanNya di dunia ini. Merekalah yang disebut sebagai orang orang kudus, umat pilihan Allah yang rajani. Jangan  terkecoh  orang  orang pilihan Kristus  bukanlah kumpulan ahli ahli torat dan kumpulan pengikutnya. Tapi orang orang hina yang telah disucikan oleh darah Kristus. Silahkan anda  menemui para pewaris surga  tsb, karena kehadiran Kristus ada di sana, di mana ada Kristus di situ pula ada hadirat Allah, di situlah gereja yang sesungguhnya. Mungkin  akan  ada pro kontra atas tulisan ini. Keputusan ada  pada anda masing masing mau mempercayai  berita ini atau sebaliknya  anda menolak berita ini!  Sebagai  hamba Kristus saya tidak punya otoritas apa apa  selain memberitakan  apa yang diucapkan  oleh majikan Agung Tuhan Yesus Kristus secara harafiah, tidak ditambah atau dikurangi apalagi ditafsirkan sendiri oleh buah pikiran/ pandangan pribadi atau daya fantasi saya. Silahkan sebelum baca artikel ini, anda membaca Alkitab secara lengkap dari Kejadian s/d Wahyu, kemudian menguji dan mengkrosscheknya. Amin.

 

Leave a comment

Pass Me Not, O Gentle Savior

 

 

As ear­nest Christ­ian pas­tor told of a young man about whom he had long felt much an­xi­e­ty, as he had seemed so un­con­cerned about his soul, and was, in re­al­i­ty, a real cause of dis­turb­ance and in­ter­rupt­ion in class­es for other young men.

Meet­ing him one day, the lov­ing pas­tor sought once more to in­flu­ence him, urg­ing, “We want you for Christ and his ser­vice.”

There was a cer­tain change in his man­ner which did not es­cape the eye of the pray­er­ful watch­er for souls, and—lack­ing time to do more—he seized the op­por­tun­i­ty to se­cure the pre­sence of his young friend at a Christ­ian En­dea­vor meet­ing soon to be held.

True to his prom­ise he was there. When an op­por­tun­i­ty was giv­en for some of the young men to choose a song, it was seen that he was urg­ing his com­pan­ion to se­lect some par­tic­u­lar hymn. The other, yield­ing to his re­quest, asked if the hymn, “Pass me not, O gentle Sav­iour,” might be sung; and both young men joined in the sing­ing with ev­i­dent in­ter­est and heart­i­ness.

Lat­er in the ev­en­ing it was re­quest­ed that all who were def­in­ite­ly on the Lord’s side would con­fess their al­le­giance by stand­ing. Where­up­on the one over whom the heart of the pas­tor was spe­cial­ly yearn­ing rose at once, and with de­ci­sion.

“Tell me about your con­ver­sion,” the thank­ful pas­tor re­quest­ed at the close of the meet­ing, when hands were clasped in glad, bro­ther­ly wel­come and re­cog­ni­tion.

“Oh, yes,” as­sent­ed the other. “It was all through that hymn we have just sung. I was work­ing on the canal at G–, and there was a meet­ing be­ing held at the Mar­in­er’s Cha­pel, near­by. The words float­ed out over the wa­ter, and from the tug where I was work­ing I could hear them plain­ly enough. When they were just go­ing to sing those lines—‘While on others Thou are call­ing, Do not pass me by!’ a great fear came over me, and I thought, ‘Oh, if the Lord were to pass me by, how ter­ri­ble it would be!’ Then and there, on the tug, I cried out, ‘O Lord, do not pass me by.’ And”—with a bright smile—“he didn’t pass me by. I am saved.’”

===========

Pass me not O gentle Savior

1. Pass me not, O gentle Savior,
Hear my humble cry;
While on others Thou art calling,
Do not pass me by.

Refrain
Savior, Savior,
Hear my humble cry;
While on others Thou art calling,
Do not pass me by.

2. Let me at Thy throne of mercy
Find a sweet relief,
Kneeling there in deep contrition;
Help my unbelief.

Refrain

3. Trusting only in Thy merit,
Would I seek Thy face;
Heal my wounded, broken spirit,
Save me by Thy grace.

Refrain

4. Thou the Spring of all my comfort,
More than life to me,
Whom have I on earth beside Thee?
Whom in Heav’n but Thee?

Refrain

===========

Mampirlah Dengar Doaku

1. Mampirlah, dengar doaku, Yesus Penebus
Orang lain Kauhampiri, jangan jalan t’rus

Refrain
Yesus, Tuhan, dengar doaku;
Orang lain Kauhampiri, jangan jala t’rus.

2. Di hadapan takhta rahmat aku menyembah
tunduk dalam penyesalan. Tuhan tolonglah!

Refrain

3. Ini saja andalanku: jasa kurbanku
Hatiku yang hancur luluh buatlah sembuh.

Refrain

4. Kaulah Sumber penghiburan, Raja hidupku.
Baik di bumi baik di sorga, siapa bandingMu?

Refrain

Leave a comment

NOWHERE does Jesus say “I am God, worship me.”

N O W H E R E does Jesus say “I am God, worship me.”

The Question:

Please show me where in the Bible it says that Jesus said he is God and worship me as most Christian would like to think he is.

(An) Answer:

I have been asked this in the very same formulation many times before. I hope this response brings out some of the issues I think are important in this regard.

N O W H E R E does Jesus say “I am God, worship me.”

Suppose a man does indeed come up to you and does says, “I am God, worship me.” Would you believe him? Would you worship him?

The immediate reaction of any decent monotheistic believer would be to call the person making such a claim an impostor and a blasphemer. If that is your reaction too, then why would you demand something from Jesus which you aren’t going to accept anyway? Most would declare insane anybody who would make such a statement. Jesus knows about this natural reaction as well as anybody else and saw no reason to make his claims in such a foolish way. But he did make the claim in indirect ways and those are just as clear.

Maybe you are cautious and open and don’t want to completely dismiss such a claim … after all, saying that God is not able to come and appear in the form of a man does restrict his power, and you believe in an all powerful God, … but you would at least demand conclusive proof for such a claim, wouldn’t you? After all, if you do worship somebody who is not God you are guilty of idolatory. But refusing to worship God when he demands so is just as great a sin.

What matters in the end is not the existence of this literal statement, but whether there is clear evidence that he is indeed God, no matter in which form he issued the claim. If there is clear proof for his divine identity, then you have to worship Him even if the wording of his commands is not precisely the way you may think they should be. We cannot prescribe for God how he has to reveal himself before we accept it.

For example, in the Gospel according to John, (speaking of eternal life) Jesus says, “I am the resurrection and the life. He who believes in me will live, even though he dies.” (John 11:25). He makes the offer of eternal life conditional on faith in his own person. This would be blasphemous for anybody other than God. This is an incredible claim.

Does he give any evidence for his authority to make such claims? The record gives many details of what happened at this particular day, but at the end we read, “When he had said this, Jesus called in a loud voice, `Lazarus, come out!’ The dead mean came out, his hands and feet wrapped with strips of linen, and a cloth around his face. Jesus said to them, `Take off the grave clothes and let him go.’” (John 11:43-44).

When you read the Gospels carefully you will find that consistently
* Jesus talks like he is God,
* Jesus acts like he is God,
* Jesus gives evidence for claiming this authority rightfully by performing miraculous signs.

After 3 years with his disciples we read how one of them asks Jesus and wants to be “shown the Father (God)”.
Jesus answered, “Don’t you know me, Philip, even after I have been among you such a long time? Anyone who has seen me has seen the Father. …
Believe me when I say that I am in the Father and the Father is in me; or at least believe on the evidence of the miracles themselves.” (John 14:10-11).

Jesus expected the disciples and the people around him to recognise his true nature and identity from his words which are only appropriate for God to speak and from his deeds. Jesus does give enough proof and then lets you draw your own conclusions. Everybody could make the claim to be God. And
many have made claims to be (a) god throughout history. Only the true God can give true evidence for it and if you have the evidence there is no need for the explicit command to worship anymore. The statement “I am God” adds nothing of substance to the question regarding his identity.

His real identity is established by the proof he gives, not by claims each and everybody can make. After he has given the evidence, there is no more need for the statement. Those who are open for the truth will recognise the evidence, those who ignore the evidence won’t be convinced either if he adds this
specific statement you seem to demand from him. And if you have recognized his true identity, worshiping him is only proper and will nearly be an “automatic” response.

I know this is an incredible thought, it is unbelievable. That is why it took even the disciples themselves such a long time to really understand it. They have really only started to comprehended the meaning of it all after Jesus’ own death and resurrection, after they meet the risen Lord.

In the Gospel according to John, end of chapter 20, and the Gospel according to Matthew, end of chapter 28, we read how Jesus receives worship and affims this. Even though he never demands the worship, he accepts it and confirms it as proper.

You claim: N O W H E R E Jesus says “I am God, worship me.” and understand this as Nowhere Jesus says “I am God, worship me.” and you are right when taking it the literalistic way.

He never says these very words. But he makes his claims very clear in many other ways.

Leave a comment

WE KNOW ONE

When we talk to the Lord like we would talk to a friend– when we let Him know what is going on in our lives– where we are having trouble or hurting–He promises He’ll give us the right response. It … Continue reading

Leave a comment