Category Archives: Artikel / Article

Why You Need a Church Familty

Each week over 110 million people go to church somewhere in America. Let me put that into perspective. If you take all the people who have ever gone to a basketball game, ever gone to a football game, ever gone … Continue reading

Comments Off on Why You Need a Church Familty

3 Rahasia Untuk Terlepas Dari Belenggu Masalah

“Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua ” Kisah Para Rasul 16:26 Filipi, suatu kota di daerah Makedonia, merupakan salah satu tujuan Rasul … Continue reading

Comments Off on 3 Rahasia Untuk Terlepas Dari Belenggu Masalah

The Power of Your Words

(By Pierre Eade) Wait! Stop! Don’t say it! Pegues knows how easily a few careless words can cause problems in our business and personal relationships. Here she offers 30 warm-hearted Scripture-based devotions to help you take control of that hasty, … Continue reading

Comments Off on The Power of Your Words

Kerinduan Beribadah

Kerinduan Beribadah Oleh: Krisma Ketika rutinitas pekerjaan memaksa kita bekerja hingga 24/7 seminggu, hingga terkadang kita lupa mengisi roh kita dengan komunikasi dengan-Nya. Apakah kita baru merindukan Tuhan dikala waktu senggang saja ?? Saya rasa tidak, namun itu kebanyakan yang … Continue reading

Comments Off on Kerinduan Beribadah

10 Signs a Church is in Trouble

By : Thom S. Rainer
The original copy of this story can be found at http://www.bpnews.net/bpnews.asp?ID=35256.

Prior to my present place of ministry, I spent more than 20 years consulting with churches across America. I have also had the wonderful opportunity to research churches primarily in the United States. Over time I began to notice certain patterns or signs that would indicate a congregation might be headed for trouble.

After reviewing my consultation notes and research, I found 10 warning signs for churches. If a church had four or more of these signs present, I would let the leadership know that remedial efforts were in order. If six or more signs were present, I was concerned that the congregation was in immediate trouble.

The warning signs below are not listed in any particular order. Nor are they the result of a scientifically accurate study. Though the information is both experiential and anecdotal, I found it immensely helpful in diagnosing the health of a church.

Church leaders should be concerned …

  1. If the pastor does not have adequate time to be in the Word or if he chooses not to do so.
  2. If the members are spending time arguing about how money should be spent.
  3. If none or only a few of the key leaders are actively sharing their faith.
  4. If there is no clear process of discipleship in place, just a plethora of programs and activities.
  5. If corporate prayer is not a major emphasis in the church.
  6. If church members are arguing about worship style or worship times.
  7. If church members expect the paid staff to do most of the ministry, instead of the staff equipping the members to do the work of ministry (“Why didn’t he visit me in the hospital?”)
  8. If there are ongoing disagreements about matters of the church facilities.
  9. If the church has more meetings than new disciples.
  10. If the leadership of the church does not have a coherent plan for what is taught in small groups or Sunday School classes.

There is a common pattern for most of the warning signs. Church members are more concerned about their preferences and desires. They are inwardly focused. They ask what the church can do for them, instead of asking how God can use them sacrificially and radically through the ministries of the local church.

True Christianity is a faith that always seeks to put others first. Sadly, in many of the churches across our land, members are more concerned about getting their own personal needs and preferences met.

Comments Off on 10 Signs a Church is in Trouble

Surat Pdt. Em. Dr. Eka Dharmaputra

Pada bulan Maret 2005, sewaktu Pdt. Em. Dr. Eka Darmaputra sedang sakit parah (kanker hati), beliau menulis sebuah surat yang berisi pelajaran yang indah mengenai sikap Kristiani dalam menghadapi kematian.

Pada tanggal 29 Juni 2005 beliau dipanggil pulang Bapa di Surga,

—————————————-

“Rekan-rekan sepelayanan, kawan-kawan seperjuangan, dan saudara-saudaraku seiman, yang saya kasihi dengan segenap hati!”

Terpujilah Tuhan, yang telah berkenan mengantarkan saya melalui perjuangan panjang, kurang lebih 21 tahun lamanya! Selama 21 tahun itu, saya akui, saya tidaklah seperkasa singa, sekuat gajah, atau setegar baja. Saya adalah “darah” dan “daging”, manusia “biasa-biasa” saja, yang sekadar berusaha untuk setia kepada Tuhannya.

Tidak jarang, 21 tahun itu saya lalui dengan amarah, cemas, dan rasa terluka di jiwa. Namun demikian, pada saat yang sama, tahun-tahun tersebut juga adalah tahun-tahun yang amat “kaya” dan limpah dengan rahmat dan berkat.

Saya disadarkan, betapa Tuhan yang saya ikuti tak selalu menyenangkan, tapi tak pernah Ia mengecewakan.
Mata rohani saya pun dicelikkan, untuk melihat betapa saya adalah orang yang sangat diberkati. Tuhan mengarunia saya dengan kekayaan yang luar biasa, berupa istri, anak dan menantu, yang maknanya tak tergantikan oleh apa pun juga.

Dan saya ditakjubkan serta amat diteguhkan oleh ribuan sahabat yang begitu peduli, memperhatikan dan menyayangi saya. Mereka terdiri dari segala bangsa, tinggal di pelbagai belahan dunia, penganut beraneka rupa agama, dan berasal dari beragam usia serta kedudukan sosial: dari seorang presiden Republik Jerman sampai seorang tukang parkir jalanan.

Kesimpulannya: apa lagi yang masih kurang? Apa lagi yang pantas saya tuntut?

Saudara-saudara sekalian, kini saya telah hampir tiba di penghujung jalan, berada di etape-etape akhir perjalanan hidup saya. Para dokter telah menyatakan, tak ada lagi tindakan medis yang signifikan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi kesehatan saya, kecuali – mungkin transplantasi hati.

Dalam situasi seperti itu, ketika tangan dan upaya manusia tak lagi mampu melakukan apa-apa yang bermakna, kita bersyukur karena bagi orang beriman selalu ada yang amat berarti yang dapat dilakukan. Dan itulah yang kita lakukan malam ini: BERDOA. Kita menyatakan penyerahan diri kita, seraya mempersilakan tangan-Nya bertindak dan kehendak-Nya berlaku dengan leluasa.

Dalam hubungan ini, perkenankanlah saya menceritakan sebuah kesaksian. Pada suatu ketika, sewakty “Iunch-break”, anak saya – Arya – yang berdiam dan bekerja di Sydney, diajak ngobrol oleh salah seorang rekan sekantornya, yang d**enal punya “indera keenam”. Tanpa “ba” atau “bu”, teman tersebut tiba-tiba bertanya, apakah ayah Arya adalah seorang pejabat atau seorang tokoh masyarakat. “0, tidak. Ayah saya seorang pendeta”, jawab Arya.

“Apakah ayah Anda sedang sakit?”, tanyanya pula. “Ya, sudah 20 tahun”, kata Arya. Kemudian terjadilah sesuatu yang mengejutkan, yang mendorong saya menceritakan kejadian ini. Orang itu – ia bukan “orang Kristen” berkata, “Ayah Anda itu seharusnya sudah lama “pergi”. Tapi masih bisa bertahan sampai sekarang, karena ada ribuan orang di seluruh dunia yang selalu berdoa baginya!”.

Melalui kisah ini saya ingin mengatakan, betapa berartinya yang kita lakukan malam ini! Sebab itu, tolong, jangan pernah Anda katakan, “Saya cuma bisa berdoa!” Doa itu, bukan “cuma”! Terima kasih dari lubuk hati terdalam saya, Evang, Arya dan Vera, kepada para rekan yang telah memprakarsai dan memfasilitasi acara petang ini. Pekerjaan sederhana ini, saya yakin, tidak sia-sia.

Namun demikian, ada permintaan saya. Bila anda berdoa untuk saya – baik di sini maupun di mana saja, saya mohon janganlah terutama memohon agar Tuhan memberi saya kesembuhan, atau mengaruniai saya usia panjang, atau mendatangkan mujizat dahsyat dari langit! Jangan! Biarlah tiga perkara tersebut menjadi wewenang dan “urusan” Tuhan sepenuhnya!

Saya Cuma mohon didoakan, agar sekiranya benar ini adalah tahap pelayanan saya yang terakhir, biarlah Tuhan berkenan memberikan saya dan keluarga keteguhan iman, kedamaian dan keikhlasan dalam jiwa. Semoga Tuhan berkenan menganugerahi saya perjalanan yang tenang, kalau boleh tanpa kesakitan dan tidak mahal biayanya, sampai saya tiba di pelabuhan tujuan. Dan kemudian, biarlah tangan Tuhan dengan setia terus tanpa putus menggandeng – bila perlu menggendong – Evang, Arya, Vera serta (mudah-mudahan) cucu-cucu saya melanjutkan perjalanan mereka.

Saudara-saudara sekalian, Paulus pernah menulis, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia, bagiku itu berarti bekerja memberi buah, jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu” (Filipi 1:21). Itulah kerinduan saya. Segera bersama-sama dengan Kristus. Namun bila Ia masih menghendaki saya di dunia ini – entah lama, entah sebentar – doakanlah saya, agar itu dapat saya manfaatkan untuk bekerja memberi buah. Tidak berlama-Iama di pembaringan dan dalam kesakitan.

Demikianlah, saudara-saudara isi hati saya. Saya mengikuti persekutuan Saudara-saudara malam ini dengan terima kasih yang dalam dan keharuan yang sangat. Dan tolong jangan lupa berdoa pula bagi hamba-hamba-Nya yang kini juga tengah bergulat dengan penyakit, khususnya Andar Ismail dan Lydia Zakaria.

Terima kasih dari kami berempat.

Eka Darmaputra

—————————————-

4 Comments

Berkat yang dari keretakan

Berikut ini adalah cerita bijak dari Cina, sebagai bahan renungan

Seorang ibu di Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakan untuk mencari air, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.

Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai.

“Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.”

Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?

Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu.

Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.

Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.”

Kita semua mempunyai “keretakan”. Puji Tuhan, “keretakan” dapat dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi sesama .

Comments Off on Berkat yang dari keretakan