Mengapa Kata “Allah” dan “TUHAN” dipakai dalam Alkitab Kita?

Pengantar

Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesat­kan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemah­kan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini

Mengapa LAI menggunakan kata “Allah”?
Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik maupun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ’ELOHIM, ’ELOAH  dan ’EL dalam Alkitab Ibrani:

  • Kej 1:1 “Pada mulanya Allah (’ELOHIM) menciptakan langit dan bumi”.
  • Ul 32:17 “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah (’ELOAH).
  • Mzm 22:2 “Allahku (EL), Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ’ELOHIM, ’ELOAH  dan ’EL berkaitan dengan akar kata ’L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun  yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak! Umat Israel kuno memahami kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.

Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang ber­pendapat, kata itu tidak boleh hadir dalam Alkitab umat kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengait­kannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu ’EL, ’ELOAH dan ’ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani Ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.

Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ’ELOHIM, ’ELOAH  dan ’EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga SM. merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta meng­guna­kan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut: ”Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan ini tidak dipahami sebagai sembahan politeis.

Kata “Allah” dalam sejarah penerjemahan Alkitab di nusantara

Sebelum Alkitab TB-LAI diterbitkan pada tahun 1974, telah ada beberapa Alkitab dalam bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Injil Matius terjemahan A. C. Ruyl (1629) adalah upaya pertama dalam penerjemahan Alkitab di nusantara. Menariknya, dalam terjemahan perdana ini, kata “Allah” telah digunakan, seperti contoh berikut: “maka angkou memerin’ja nama Emanuel artin’ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23). Terjemahan selanjutnya juga mempertahankan kata “Allah”, antara lain:

  • Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).
  • Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah akan ſwarga dan dunja” (Kej 1:1).
  • Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah djoega salamatkoe” (Yes 12:2).
  • Terjemahan W.A. Bode (1938): “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”.

Seperti tampak pada contoh-contoh di atas, kata “Allah” yang baru belakangan ini dipersoalkan oleh sebagian umat kristiani telah digunakan selama ratusan tahun dalam terjemahan-terjemahan Alkitab yang beredar di nusantara. Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan kata “Allah”, tim penerjemah LAI mempertimbangkan bobot sejarah maupun proses penerjemahan lintas-budaya yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.

Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?

Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (’ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ (’EHYEH ’ASHER ’EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (’EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.’” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.

Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menye­but nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ’ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: ”KYRIOS menggembala­kan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm 23:1).

Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pen­cobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.

Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? Tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ’ADONAY (‘TUHAN’) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.

Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani per­dana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mengingat­kan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang  sengaja dibedakan ­dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ’ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah mening­gal­kan aku dan Tuhanku (’ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes 49:14). Pem­bedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak memper­tahankan penulisan YHWH.

Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheits­übersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumé­ni­que de la Bible).

Penutup

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

  • Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjan­jian Baru) dan tafsirannya.
  • Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  • Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman.
  • Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab se-Dunia (United Bible Societies).

Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik mau­pun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pimpinan dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampaknya bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia di hadapan Allah, kita patut mempersembahkan puji syukur kepada Dia yang telah menyatakan firman yang diilhamkan-Nya untuk mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi umat-Nya untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:16-17). Dialah yang telah mempersiapkan orang-orang untuk menjelmakan firman kebenaran-Nya dalam aneka bahasa dan  budaya dari masa ke masa. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. [bfk]

(Sumber LAI Online)

Bookmark the permalink.

22 Responses to Mengapa Kata “Allah” dan “TUHAN” dipakai dalam Alkitab Kita?

  1. hendrik says:

    ini sangat salah , YHVH adlh nama TUHAN yg tidak bisa digant-, elohim adlh sesembahan dgn kata lain TUHAN , elohim ada banyak elohim orang amom, arab, filistin dan hanya 1 elohim bgs israel yakni YHVH, sejak semula tidak ada nama allah di alkitab , dapatkah kamu memyamakan YHVH pencipta langit dan bumi dgn berhala, apa anda tdk mempunyai hikmat jika kami menolak nama allah anda menyuruh menghapus nama elohim juga, kurang hikmatkah anda akan hal ini,

    • Ronluhu5 says:

      Sedalam apa pengetahuan anda ttg epistemologi bahasa Ibrani dan Yunani. Kalau anda mmg punya hikmat sy minta anda menerjemahkan kalimat ini kedalam bahasa Ibrani :”
      Lalu Yesus mengambil roti dan mengucap syukur kepada Bapa di Surga “

  2. JC says:

    daniel…. pake Hikmatmu dengan benar… Kebenaran yg kamu sampaikan akan kembali kepadamu seratus kali lipat sampai kamu mampu mencernanya…. atau sebaliknya kamu akan HANCUR dibuatnya…

    selidiki dulu smuanya dengan IKHLAS dan jangan MENGHAKIMI

    • Timothy says:

      sudah, bro…..jgn dihakimi…biar aja…kita udah di bawah kasih karunia…bukan taurat lagi…so gk perlu menghakimi 🙂

  3. El rrayana says:

    nama Tuhan perlu dipanggil bukan untuk diterjemahkan lagi, dengan alasan budaya, kebiasaan, lafal atau apa saja. tidak ada perintah untuk terjemahkan nama Tuhan. tapi Tuhan senang nama Nya di Panggil oleh ciptaanNya.

  4. Waris says:

    Dengan bentangan sejarah yang cukup panjang, kehadiran LAI sangat membantu kita, terutama umat Kritiani, jika memang sekarang ada wacana bahwa nama TUHAN harus ditulis YHWH, kita meminta kepada LAI untuk menganti lagi terbitan yang akan datang, saya yakin LAI bukannya salah tetapi untuk mempermudah pengertian umat dalam mengenal sipakah yang dimaksud dengan YHWH, kalau perlu nama kota maupun nama rasul juga harus diganti dengan nama aslinya , iya kan. Dalam dalam damai dari TUHAN kita YESUS KRISTUS.

  5. ArChr says:

    Konteksnya bukan masalah nama, karena Tuhan pun tidak mau namaNya disebut sembarangan….yg terpenting kita semua tau siapa yg kita sembah dan ikuti perintahNya yg tercantum dalam FirmanNya. Disini sj sy gunakan Nya diawali huruf besar tentu anda sdh tau siapa yg sy maksudkan…….!

  6. YesusBknTuhan says:

    yohavah lebih logis karena sepanjang sejarah agama belum ada kejadian tuhan punya kelamin. ini penting untuk disadari wahai sdra ku sekalian, syaloum…………….

  7. rein says:

    sehebat, sedasyat, sekudusnya nama YHWH, ELOHIM, tanpa Tuhan Yesus Kristus, kita semuanya pasti mati. kita hanya bisa berkenan kepada Sang Pencipta, yang tertinggi hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di luar Tuhan Yesus Kristus, sehebat, sepersis apapun yang kita pegang dan tahu tentan YHWH atau ELOHIM, tidak akan mempengaruhi perkenan kita di hadapan-Nya. Hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita berkenalan kepada YHWH atau ELOHIM ataupun SANG KHALIK

  8. enjang says:

    Efisiensi tak perlu ada refisi tentang penggunaan kata allah.bayangkan berapa banyak alkitab yg harus diganti.dicetak…

  9. Rayyan says:

    sang khalik juga istilah arab yang telah diislami

  10. Carel says:

    LAI sdh memberi penjelasan yg baik tentang hal ini dan sebenarnya masih ada hal yg bisa diperkuat dengan penjelasan lain. Tetapi saya kasih argumen yg sederhana sajalah…. Begini, orang saksi Yehuwa atau juga Pengagung nama Yahwe sering jangan sebut nama Tuhan Bapa dengan sembarangan dan tentu itu memang benar karna Alkitab juga mencatat hal itu.
    Analoginya begini ya, Jika kita memiliki anak, bukankah mereka akan memanggil kita dengan menyebut Papa atau Papi atau Ayah atau Bapak ? Jika anak kita panggil kita dengan menyebut anak, orang tua akan Marah. Contoh Nama Saya Paijo, Klo anak saya memanggil saya dengan: ” Paijo aku minta makan “. Saya pasti akan marah. Gak tau klo yg Saksi Yehuwa atau sdr yg Pengagung Yahwe ? Tpi bagi syaa anak yg seperti itu adalah anak ” KURANG AJAR”. Yang kedua kita tahu abjad Ibrani tidak ada huruf vokal, sehingga YHWH ini dilafalkan banyak Macam ada yg YAHWE, ada yg JEHOVA, ada yg Yehuwa dll. Sehingga ada yg namanya SAKSI YEHUWA ada Yg namanya PEngagung Nan Yahwe. Lalu Knp YHWH ( Yod He Waw He) kok bisa jadi YAHWE dimana H nya? Dan jadi Yehuwa dibuang kemana H nya? Ini yg namanya nyebut Tuhan SEMBARANGAN.
    Ini penjelasan sederhana saja…..

    • drew' says:

      LAI sdh sngt membantu dalam menyampaikan firman YHVH diseluruh nusantara bahkan dgn berbagai bhs daerah, namun harus km ketahui bahwa LAI jg sebagai lembaga didunia mempunyai kelemahan.

      analogi yg km gunakan sngat keliru, seorang anak tidak akan pernah memanggil nama pada ayahnya namun bukan berarti anak terse but tidak boleh menyebut nama ayahnya kan? artinya dia sangat Kenal siapa ayahnya, bukankah ayahnya punya nama?

      Simon ketika memanggil ayahnya tentu dengan sebutan ayah a tau papa/BAPA dan tidak mungkin memanggil yakobus, tapi ketika nama ayahnya tertulis di sebuah bu ku dan dia harus membacanya tentu dia akan menyebut nama ayahnya dan tidak mungkin dia mengubah menjadi kt ayah, begitu pula, ketika simon ditanya siapa nama ayahnya?apakah dia akan mengatakan nama ayah saya tidak Bisa diucapkan?ataukah mungkin nama ayah saya ialah ayah karena takut mengucapkannya? kamu sebagai anak2 Tuhan tenth diberi kecerdasan untuk memahami.

      mengenai nama YHVW/YHWH/Yahweh/Yahwe/Yehuwa/Yehova, itu semuanya hanyalah perbedaan pengucapan disetiap daerah, contoh orang yunani sang at Susah menulis dan mengucapkan Yesus/Yeshua/Yesu/Jesus melainkan Iesous.

      jadi yang mengerti bahasa ibrani ialah orang Yahudi/Israel, semu tulisan dalam bahasa ibrani tidak menggunakan huruf vokal melainkan konsonan, namun mereka sang at tahun Persis bacaannya, contoh Yesus DLM bahasa ibrani namaNya ialah Yeshua, ada jug a yang mwnyebutNya Yahshua,dan tulisannya YHSH, ataupun halleluyah dengan tulisan ibraninya hllyh, apakah mereka mengada2 dalam pengucapannya???

      saran saya jangan menghakimi tapi jug a jangan twrlalu bodoh untuk tidak memiliki pengwtahuan. Gb

  11. Murniaman Gea says:

    Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang benar, di dalam Perjanjian Lama dikenal dengan nama YHWH (Baca: Adonay), sedangkan dalam Perjanjian Baru dikenal dengan sebutan Tuhan Yesus Kristus. Kata YHWH (baca; Adonay) juga dikenal sebutan untuk Allah. Para Masyoret/Masyora telah membantu memperjelas cara transliterasi dalam tulisan ketika dibubuhkan vocal menjadi YHWA.

  12. welson says:

    Inilah pertanda akhir zaman karena yang empunya jagad memberitahukan nama Dia yang sebenarnya. YHWH (Baca: Adonay) dan Yesus Kristus yang kita tau yang seharusnya dipanggil YEHOSHUA seharusnya kita bijaksana dalam menuliskan nama dalam Kitab suci karena Kitab suci kita berkiblat ke kitab Ibrani maka seharusnyalah nama tidak di ganti. contohnya ketika saya dipanggil dengan nama yang salah saya akan memberi tahu nama saya yang sebenarnya tapi jika sudah saya beritau nama saya akan tapi orang itu tetap memanggil dengan nama yang salah berarti orang tersebut saya anggap tidak baik. Apakah kita akan terima jika nama kita salah dalam ktp atau sim atau ijasah. Kita tau bersama dalam Alkitab sudah ada hukumnya bagi orang yang menghilangkan dan menyesatkan.

  13. Maximos says:

    YHWH tidak bisa disebut dengan nama lain? Kata siapa? Dalam artikel di atas sudah dijelaskan bahwa dalam Kitab Suci Ibrani pun YHWH disebut dengan nama Elohim. Kejadian 1:1 menyebut Sang Pencipta langit dan bumi ialah Elohim. Siapakah Sang Pencipta itu? Tak lain adalah YHWH sendiri.

    Dalam artikel di atas dijelaskan pula bahwa umat Ibrani yang menggunakan bahasa Yunani (karena hidup diaspora) menyebut YHWH : KYRIOS.
    Bahkan para Rasul juga menggunakan kata KYRIOS untuk menyebut YHWH.

    Mereka yang mengatakan bahwa YHWH tidak bisa disebut dengan nama lain rupayan lebih “Ibrani” dari umat Ibrani sendiri, lebih “rasul” dari para Rasul sendiri……

    Nama manusia yang tertera di SIM, KTP, ijazah, dll memang tidak boleh berubah-ubah TAPI itu bukan karena hakikat nama itu, melainkan urusan administratif kependudukan dan pemerintahan belaka yang memang menuntut adanya konsistensi dalam penulisan nama yang juga diatur dalam undang-undang. Bukan karena hakikat nama itu…….

    Membandingkan penulisan nama YHWH dengan penulisan nama manusia di dokumen-dokumen kependudukan adalah kekeliruan fatal. Konsistensi penulisan nama manusia pada dokumen kependudukan adalah tuntutan logika hukum manusia dalam bernegara. Konsistensi semacam ini tidak bisa diterapkan pada nama YHWH, karena nama YHWH tidak berada di bawah logika hukum manusia.

    Manusia bisa menyebut YHWH dengan berbagai nama lain, karena konsistensi nama YHWH bukan terletak pada kesamaan huruf-huruf yang membentuk nama itu, tapi terletak pada kongruensi makna maha dahsyat, agung dan besar yang dirujuk oleh nama-nama itu…..

  14. Yoshia K. Indrasta - East Jawa, Indonesia says:

    Terimakasih LAI sudah memberikan kami sebuah Kitab Suci dengan terjemahan yang terbagus. Kalau ada yang tidak suka terjemahan LAI terkait nama Allah dan Tuhan, ya bikin saja terjemahan yang disukai. Saya pribadi tetap memakai Alkitab LAI (1974), tetapi dalam midrash atau PA saya menggantinya dengan Iswara & YEHUWA. Contohnya :
    Kej. 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi… ayat ini saya baca : “Pada mulanya Iswara menciptakan langit dan bumi.”
    Kej. 2:4 Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, … ayat ini saya baca
    “Ketika Iswara YEHUWA menjadikan bumi dan langit.”
    Saya punya argumen dasar untuk itu. Tapi intinya itu tadi, kalau teman-teman tidak suka terjemahan LAI, ya bikin terjemahan sendiri saja, atau tetap memakai Alkitab LAI tetapi waktu pembacaan dirubah menurut versi sendiri.
    Sekali lagi terimakasih untuk LAI. Yeshua/Yesus memberkati semuanya!

  15. Nahason Manurung says:

    Kenapa Yesus berdoa, kepada Siapa? Disalib, Dia menyebut: KepadaMulah kuserahkan nyiawaKu! Yesus juga kita yakini sebagai Anak, yang dikandung anak dara Maria melalui Roh Kudus. Yesus juga disebut Firman yang menjadi daging. Kita juga meyakini Allah (TUHAN) adalah satu.
    Bukankah penyebutan/penulisan TUHAN ditujukan kepada Adonai dan Tuhan kepada Yesus Kristus? GBU.

  16. Cahya says:

    kalau saya, sderhana saja, misalnya nama saya Lukas, kalau saya ke amerika nama saya tetap Lukas, nama saya tidak bisa diterjemahkan menjadi Likas, Penginijl , atau yang lainnya… Kata Elohim adalah Jabatan Bukan nama, misalnya Bapak Lukas, menjadi Bapak Camat (sebagai Camat) sedangkan YHWH adalah nama Tuhan Orang Israel termasuk Musa. dalm Keluaran 3:15 sangat jelas bahwa YHWH adalh nama Tuhan Israel untuk selama- lamanya dan dan untuk turun temurun…
    Haleluyah…. yang berarti terpujilah YAHWEH (bukan Allah) sebab kalau Allah maka akan jadi HaleluAl…. syalom…

  17. silo,mth says:

    Syalom aleikhem be syem hamasiakh. Betul sekali bahwa dalam bahasa Ibrani tidak ada vokal (a,i,u,e,o), semuanya hanya huruf mati (konsonan), maka untuk mempermudah pembacaan dibuatlah huruf vokal. tetapi sebagai orang yahudi asli, tanpa huruf vokal mereka tahu pembacaan yang tepat. contohnya sebagai orang Indonesia kita paham kapan menyebut huruf e sebagai e taling atau e pepet, tanpa memakai tanda apapun, tapi orang asing belum tentu bisa. Jadi bagi bangsa Israel, sesuai dengan hukum Taurat, tidak boleh menyebut nama TUHAN Allahmu dengan sembarangan, makanya orang Yahudi sampai sekarang tidak pernah menyebut YHWH, tetapi menyebut Adonai, karena pembacaan YHWH yang benar yang mana: Yahwe, Yahweh, Yehowa, Yehova, Yihwe, Yihweh??? Analogi sederhana kata pjht bila ditambah vokal bisa menjadi penjahat atau penjahit!!, Hati-hati, penjahat dan penjahit berbeda jauh dari segi arti, pekerjaan, dan perilaku moral serta dosa. Kata mkn ditambah vokal bisa makin, makan. Kata dpt ditambah vokal bisa dapat, depot. Daripada kita kena kutuk Taurat, karena salah membaca atau penempatan huruf vokal pada YHWH (tetragramaton), maka langkah yang bijak kita ikuti cara pembacaan orang Yahudi/orang Ibrani yang lebih fasih, faham dan bijak dalam pemakaian bahasa Ibrani, yakni menyebut YHWH dengan Adonai.Lord Jesus bless. Soli Deo gloria donano bes pasem veni creator spiritus (silo, mth)

  18. Evangelium.. says:

    Saya tidak perluh panjang lebar memaparkan..tentang Nama. Sederhana saja..ingatlah saudara2ku..dan kita renungkan..kenapa harus Malaikat Gabriel yg diutus membawa pesan..kepada maria..bahwa Nama bayi itu YESUS. ..jadi Yesus Kristus lah yg layak kita Agungkan…Shalom

  19. Maminya rachel says:

    Saudara/i yg terkasih.. apakah saudara/i sadar bahwa perdebatan yg terjadi didalam atau diluar forum ini telah mengecewakan hati Allah?? Jawabnya adalah “ya” tentunya Allah sangat kecewa dgn terjadinya perdebatan tentang nama Allah.. LAI tidak salah LAI telah banyak membantu orang berkebangsaan indonesia sehingga dapat membaca injil dalam bahasa indonesia, akan tetapi alangkah lebih baiknya jika LAI cukup menterjemahkan apa adanya isi injil kedalam bahasa indonesia tanpa merubah nama atau tafsiran sehingga semua orang diindonesia tidak ada yg memperdebatkannya lg melainkan mencari tahu kerajaan Allah untuk mendapatkan kehidupan yg kekal.. perlu diketahui walaupun isi injil bnyk yg berubah, dlm hal ini adalah nama, sebutan, tafsiran akan tetapi saudara/i masih dapat membaca beberapa ayat didalam kitab injil yg sangat jelas apabila saudara/i membacanya dengan penuh logika, akal sehat, dan tata bahasa yg baik maka saudara/i dapat menyimpulkan dan mendapatkan kebenaran firman Allah. YHWH dan Yesus kristus adalah dua pribadi yg berbeda, YHWH adalah Allah bapa dan yesus kristus adalah tuan, raja diatas segala raja, guru, juru slamat, dan atau yg bisa disebut juga sebagai anak Allah yg tunggal.. kemudian kitab injil tidak pernah menjelaskan bahwa ada perayaan hari natal dan tidak pernah menjelaskan ada perayaan paskah yg adalah perayaan kenaikan Yesus kristus, akan tetapi perayaan paskah dilakukan ketika pembebasan bangsa yahudi dari tanah mesir, dan jumat agung yg adalah hari perjamuan kudus yaitu hari peringatan akan kematian Yesus kristus yg kemudian dihari berikutnya adalah hari raya paskah yg biasa dirayakan tiap tahun oleh bangsa yahudi tentang pembebasannya dari tanah mesir.. dan hukum taurat tidak akan pernah hilang satu huruf pun dan tidak akan pernah digantikan atau dilupakan atau distop oleh karena kehadiran Yesus kristus, melainkan kehadiran Yesus kristus adalah untuk menggenapi hukum taurat.. baiklah, saudara/i yg terkasih marilah sejenak kita renungkan semua ini dan kemudian kita pelajari dengan seksama dan mari ambil kitab injil kita dan buka dan baca beberapa ayat dibawah ini sambil direnungkan dengan baik dengan akal dan pikiran kita maka dengan demikian saudara/i yg terkasih pasti akan mendapatkan jawabannya.. (matius 5:17-slesai injil matius) (Matius 24:37-39)
    (Daniel 7:13-14 , matius 28:18, 1 korintus 15:27-28)
    (kisah 7:55-56)
    (yohanes 10:30, yohanes 17:21-23)
    (1 korintus 11:3, yohanes 14:28)
    (yeheskiel 9:1-slesai)
    Sekian kutipan dari sy semoga bisa menjadi bekal untuk saudara/i sekalian, dan dipertemuan diskusi selanjutnya sy akan membahas pengertian tentang gereja dan pendeta dan kolekte atau persembahan.. sekian dan terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *