ORANG MISKIN VS ORANG KAYA

ORANG MISKIN VERSUS ORANG KAYA
Ev. Andereas Dermawan
Teks : Lukas 6 : 20 – 26   Matius 5 : 1 – 12

Dalam khotbah perdana  Tuhan Yesus di atas bukit, Tuhan Yesus mengatakan :  “ Berbahagialah ORANG YANG MISKIN  di hadapan Allah karena mereka  adalah PEWARIS  KERAJAAN SURGA”.  Sedangkan dalam kesempatan lain  Tuhan Yesus menyatakan bahwa  ALANGKAH SUKARNYA ORANG KAYA  MASUK KERAJAAN SURGA.

Dulu sebelum  tahun 2007 penulis menganggap kata kata Tuhan Yesus ini sangat tidak populer sehingga penulis  tidak menganggap penting dan menganggap sepele ucapan ucapan Yesus ini. Penulis mengabaikan begitu saja  kata kata Tuhan Yesus ini.  Maklumlah waktu itu penulis  di samping sebagai  rohaniwan ( pendeta ),  penulis  juga merangkap sebagai  pengusaha ( Bisnisman). Tentu saja penulis tidak mau mentafsirkan kata kata Yesus ini secara letterlex ( harafiah ), apalagi penulis sudah bergelar Sarjana Theologia (S.TH), karena  pasti akan mengancam  kenyamanan penulis pada waktu itu.

Penulis selalu mentafsirkan ucapan ucapan Yesus yang kelihatannya janggal itu dengan tafsiran tafsiran berdasarkan  secara  theologies sesuai bidang ilmu yang penulis pelajari. Tafsiran seperti apa yang waktu itu penulis gunakan?  Tentunya  tafsiran ini sudah tidak asing lagi di telinga kita.  Karena secara seragam kalau ditanyakan kepada orang Kristen apa arti miskin yang diucapkan Yesus, maka sudah bisa ditebak jawabannya, yaitu pastilah dijawab dengan kata :  MISKIN ROHANI!  Apa betul saudara tafsiran seperti ini? Seandainya benar, tentu akan muncul kata kebalikannya yakni :  KAYA ROHANI.  Tapi sayangnya tidak ada seorangpun yang mau ambil  peduli dengan tafsiran yang tidak jelas ini. Padahal  di balik ucapan Yesus ini terkandung suatu  berita yang sangat sangat penting untuk diketahui semua orang. Karena di sinilah letak  RAHASIA KESELAMATAN SURGAWI  itu. Bukankah MISKIN ROHANI merupakan tafsiran yang berkembang dewasa ini, hampir semua orang Kristen di dunia ini sangat  menerima  ajaran seperti ini, nyaris tidak ada orang yang mau menguji  kebenaran dari ajaran/tafsiran seperti itu. Namun pada pertengahan tahun 2007 penulis  tergerak untuk membaca ulang seluruh isi Alkitab secara utuh dan menyeluruh tanpa buku tafsiran apapun dibaca secara letterlex dari  Kitab Kejadian s/d Kitab Wahyu.

Setelah penulis  selesai membaca seluruh Alkitab, barulah penulis sadar akan kekeliruan pemahaman selama ini, karena begitu banyak buku buku tafsiran yang beredar dewasa ini telah menyimpang dari kebenaran yang hakiki dari  yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.  Dan Tuhan Yesuspun sudah 2 kali memperingatkan kepada murid muridNya bahwa ALKITAB Firman Allah TIDAKLAH BOLEH DIUBAH, DITAMBAH atau DIKURANGI apalagi DITAFSIRKAN. Pertama Peringatan ini disampaikan pada waktu Tuhan Yesus memulai misiNya dan yang kedua Tuhan Yesus sampaikan kepada Yohanes pada waktu Yohanes menerima penglihatan di pulau Patmos dan Yohanes tuliskan di kitab Wahyu, di pasal terakhir dari kitab Injil  ini.

Ternyata mata batin penulis buta selama ini, ternyata jalan pemahaman yang penulis anggap benar sama sekali keliru. Selama ini  penulis memilih  jalan agama/ jalan kebaikan sebagai kebenaran ternyata tidak benar, ibarat berada di persimpangan jalan maka ada 2 jalan yang harus dipilih ke kiri  atau ke kanan. Maka penulis sadar  bahwa jalan  yang penulis pilih adalah jalan yang disebelah kiri, jalan yang banyak orang anggap benar itu justru membawa kebinasaan. Untuk itu penulis harus pindah kejalur jalan sebelah kanan, yakni Jalan Kebenaran Kristus. Untuk pindah dari  jalan yang sebelumnya begitu nyaman bagi penulis jalan di sebelah kiri ke jalan sebaliknya jalan tidak nyaman di sebelah kanan bukanlah hal yang mudah, merupakan suatu perjuangan yang berat yang bahkan sampai saat ini masih diperjuangkan  oleh penulis, karena untuk berpindah dari  jalur kenikmatan/ kekayaan/ kesuksesan/ popularitas yang disenangi manusia kejalur sebaliknya yang dibenci/ dimusuhi oleh manusia di dunia ini kejalur penderitaan/ kemiskinan/ ketidak berdayaan merupakan suatu pergumulan yang tidak mudah bagi  penulis. Tidak mudah, bukan?

Bukankah Tuhan  Yesus juga mengatakan bahwa barang siapa yang  mau jadi  pengikutNya   haruslah melepaskan segala sesuatu/ menyangkal diri /  memikul salib/ mengosongkan diri  barulah ia layak menjadi muridNya.  PRASYARAT  ini  sebagai bukti  seseorang telah dilahirkan kembali ( Lahir Baru ). PRASYARAT INI SANGAT DITOLAK OLEH ORANG ORANG DI DUNIA INI. Mereka menggantikan  syarat syarat yang diminta Yesus ini dengan syarat syarat  yang ditafsirkan sendiri  secara religius ( Rohani ).  Kata kata Yesus  secara hurufiah ini  dianggap sangat berbahaya dan mengancam kemapanan para  pemimpin agama/ parisi baik di zaman Yesus  bahkan tetap berlangsung sampai masa kini dalam rupa parisi parisi modern abad ini. Lalu apa relevansinya paparan di atas dengan istilah  kata kaya dan miskin?  Seperti telah disaksikan oleh penulis bahwa  sebelum tahun 2007, kata kata Yesus  mengenai  kaya dan miskin sama sekali tidak menyentuh hati penulis,  bagi penulis ucapan Tuhan Yesus sangat tidak populer. Oleh sebab itu penulis menganggap sepele  ucapan Tuhan Yesus tentang miskin dan kaya ini.

Apalagi penulis  sering mendengar dari para  rohaniwan ( pendeta ) yang adalah  kolega penulis sendiri.  Dimana mereka mentafsirkan kata miskin  yang diucapkan Yesus dengan entengnya mereka mentafsirkan sebagai MISKIN ROHANI,  suatu tafsiran yang abstrak tidak faktual dan sangat sulit untuk diverifikasi. Tahun 2007 adalah tahun pertobatan lahir baru bagi penulis. Di tahun itulah penulis rindu untuk  mencari kebenaran yang sesungguhnya dari kata miskin di hadapan Allah. Seperti yang diucapkan Yesus dalam khotbah perdananya.  KARENA BEGITU BANYAKNYA  TAFSIR YANG KELIRU MENGENAI HAL INI, SEHINGGA MENJADI MULTITAFSIR. Akhirnya penulis  menemukan jawabannya dalam kitab  Injil Matius dan Kitab Lukas yang secara parallel  menuliskan khotbah perdana Tuhan Yesus di atas bukit. Dalam kitab Injil Lukas hanya ditulis miskin saja tanpa makna kata miskin di hadapan Allah, yang kini banyak disalah tafsirkan oleh berbagai kalangan. Kitab Injil Lukas lebih menukik pada pengertian yang faktual dari kata miskin ini. Ia menuliskan sbb : Berbahagialah Orang orang miskin karena merekalah pewaris surga, dan Celakalah orang orang kaya …..dst.

Dan hal ini senada dengan ucapan Yesus lainnya yaitu :  SANGATLAH SUKAR ORANG KAYA MASUK SURGA….dst. Kata kata Yesus ini telah membuka pikiran penulis yang semula buta akan rahasia kebenaran ini. Karena ternyata KUNCI RAHASIA  KERAJAAN SURGA TELAH DIUNGKAPKAN YESUS DALAM KHOTBAH PERDANANYA INI BAHKAN TELAH DIVERIFIKASI DALAM KHOTBAH TERAKHIRNYA TENTANG AKHIR ZAMAN. Penulis menyadari bahwa arti kata  MISKIN DI SINI BUKANLAH BERARTI MISKIN ROHANI yang diartikan oleh sebagian besar orang Kristen pada masa kini. Suatu tafsiran yang abstrak! Namun makna MISKIN YANG DIUCAPKAN YESUS ADALAH BERMAKNA  suatu KEMISKINAN TOTAL.  KEMISKINAN TOTAL ADALAH  KEMISKINAN SECARA KWANTITAS DAN KEMISKINAN SECARA KWALITAS, ALIAS ORANG ORANG YANG TIDAK BERDAYA.  ORANG ORANG SEPERTI INILAH YANG DIMAKSUD SEBAGAI ANAK KECIL DALAM SUATU ANALOGI YANG PERNAH DISAMPAIKAN YESUS  KEPADA MURID MURIDNYA.

Merekalah yang empunya Kerajaan Surga, menjadi orang orang kudus, orang orang yang sudah dibenarkan oleh kebenaran Kristus. Merekalah penerima kunci kerajaan Surga. Dan secara eksplisit  Tuhan Yesus juga mengatakan  bahwa merekalah yang terbesar di kerajaan Surga melebihi para nabi dan hamba Allah lainnya. Hal ini pernah dikatakan Yesus ketika para murid ingin membandingkan Yesus dengan nabi Elia yang telah datang dalam rupa Yohanes Pembaptis. Yesus mengatakan bahwa orang orang paling hina itulah yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Kata miskin yang diutarakan Yesus adalah  miskin dalam arti faktual sesuatu yang konkrit  bukan miskin rohani yang abstrak.  MISKIN SECARA KWANTITAS ADALAH ORANG ORANG MISKIN YANG TIDAK MEMILIKI APA APA DIBIDANG MATERI. SEDANGKAN MISKIN KWALITAS  ADALAH ORANG ORANG MISKIN YANG TIDAK PUNYA STATUS/ JABATAN DAN TIDAK MEMILIKI KEPANDAIAN ATAU ORANG ORANG YANG DIANGGAP BODOH OLEH  ORANG ORANG DI DUNIA INI. Jadi kata  MISKIN ini dapat disimpulkan dalam suatu kata yaitu KETIDAK BERDAYAAN/ ketelanjangan / kematian.

Itulah keadaan manusia ketika manusia  jatuh di dalam dosa. Maka orang orang yang menyadari dosanya itulah yang mendapat belas kasihan Allah, dilahirkan kembali menjadi ciptaan baru/ manusia baru. Untuk menjadi ciptaan baru setiap orang harus mati dari hidup lamanya melalui kelahiran baru. Khotbah perdana Yesus  ini bukanlah sekedar teori keagamaan yang bisa direspon dengan believe or not? Namun ajaran Yesus telah diimplementasikan secara nyata oleh Yesus sendiri. Dimana untuk  menyelamatkan orang orang hina/ miskin, Ia menjadi sama dengan orang orang pilihannya itu dan untuk menjadi pemimpin dari orang orang yang hina itu, maka ia rela  menjadi orang paling hina ( terkonfirmasi  dalam khotbah terakhir Yesus tentang akhir zaman Matius 25 : 31 – 46 ). Dalam khotbahnya itu Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan barangsiapa melayani orang orang yang paling hina berarti ia telah melayani Aku, tidak dikatakan demi Aku. Dan hal yang memperjelas statementnya ini , dapat kita lihat respon dari orang yang bertanya itu, dengan kata kata dimana engkau Tuhan?

Jadi jelas bahwa  orang yang paling hina itu adalah rupa keberadaan Yesus di dunia ini. Inilah ajaran yang murni dari Yesus tentang makna orang orang miskin pewaris surga. Dan hal ini tentu saja berbanding terbalik dari apa yang diajarkan dunia ini termasuk pengajaran para pemimpin agama/ parisi modern zaman ini. Di mana untuk memimpin orang orang pintar maka yang dipilih adalah orang orang yang paling pintar dan untuk memimpin orang kaya, maka yang dipilih adalah orang orang yang lebih kaya atau orang yang paling kaya. Sedangkan Yesus mengambil jalan yang sebaliknya dimana untuk memimpin  orang hina/ miskin, maka Ia harus menjadi contoh yang sama, setelah itu Ia harus lebih hina dari orang orang yang dipimpinNya bahkan Ia menjadi paling hina dan hal ini sudah terimplementasi dalam kehidupan Yesus, jadi antara yang diajarkan  dengan fakta/keadaan sebenarnya selalu sejalan. Tuhan Yesus secara nyata telah membuktikan ajaranNya secara faktual bukan secara ritual seperti yang banyak dilakukan oleh para pemimpin agama sejak dulu bahkan terus meningkat kedurhakaannya sampai masa kini. Secara faktual Yesus telah mengimplementasikan ajaranNya.

Dari segi keadaannya pada waktu Ia lahir di dunia ini, Ia dilahirkan di tempat yang paling hina di kandang domba, lebih hina dari seorang pengemis sekalipun. Ia  juga miskin dalam kehidupan sehari hari dan juga miskin dalam kematiannya. Dalam setiap ajaranNya YESUS  TIDAK MENEKANKAN PADA ASPEK ASPEK RITUAL/ spritualitas/ kerohanian, tetapi Ia selalu mencontohkan hal hal yang bersifat factual. Sebab itu Tuhan Yesus tidak memilih para pakar pakar ritual/ spritualitas/ rohani/ ahli ahli kitab/ imam pemimpin agama. Namun Yesus membutuhkan hamba hamba yang taat mengerjakan hal hal yang faktual. Sebab itu pilihanNya jatuh pada orang orang kecil/orang orang lemah tidak berdaya, sebab di pemandangan Allah orang orang seperti itulah sebagai refleksi dari pertobatan lahir baru. Tuhan Yesus berkata : Barangsiapa yang mau mengikut Aku, haruslah mereka ikut juga dalam penderitaan dan kematiannya, selanjutnya mereka juga akan ikut dalam kebangkitan dan kemuliaanNya. Mungkin saudara akan bertanya bila surga diwariskan kepada orang orang miskin, apakah orang orang kaya juga  dapat diselamatkan? Tentu saja bisa saudara, kalau Ia mau bertobat dalam pertobatan yang sebenarnya yakni pertobatan lahir baru, suatu syarat yang sangat berat bagi orang kaya, tetapi tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dari pemaparan ini, baiklah kita melihat realitas yang ada.

Apakah orang orang Kristen dan para pemimpin agamanya sudah menerapkan apa yang diajarkan Yesus? Kalau kita mau jujur maka yang terjadi adalah bagai panggang jauh dari api! Sama sekali berbanding terbalik, terutama di kota kota besar. Maka Yesus pernah memperingatkan kepada murid muridNya akan kebinasaan kota kota besar yang akan jauh lebih dahsyat dari Sodom dan Gomora karena tidak juga bertobat meskipun mesias dalam rupa Yesus Kristus telah datang ke dunia tapi manusia belum juga mau bertobat. Untuk itu melalui tulisan ini saya selaku hamba Kristus menyerukan pertobatan massive bagi orang orang kaya, karena keselamatan surgawi  tidak bisa anda peroleh hanya dengan anda memiliki agama, memiliki kebaikan suka beramal, tetapi keselamatan itu didasarkan hanya pada kebenaran dan keadilan Allah yang tidak sama dengan makna keadilan yang dimiliki dunia ini. Sudut pandang dunia memandang keadilan berbanding terbalik dengan makna keadilan dari sudut pandang Allah. Manusia memaknai keadilan berdasarkan KEADILAN yang NORMATIVE. Misalnya Seorang pekerja  akan mendapatkan upahnya dari  majikannya yang kaya.

Suatu keadilan yang take and give.Suatu keadilan yang bersifat pamrih. Sedangkan Keadilan yang diajarkan Yesus adalah KEADILAN yang SUBSTANTIVE, bahwa semua manusia di hadapan Allah telah berdosa. Tidak ada kaya dan miskin, SEMUA MANUSIA SAMA telah miskin/mati/ telanjang/ tidak berdaya. Semua manusia haruslah memiliki persamaan hak, semua yang ada di dunia ini milik Allah, dan Allah Maha Adil, Ia menganugerahkan Keadilan dan kebenarannya kepada orang miskin, orang orang tertindas, inilah keadilan Allah yang tidak bisa dijangkau oleh logika manusia dengan segala aturan mereka yang normative. Zakheus yang kaya ketika Ia bertobat, Ia langsung memahami KEADILAN ALLAH, karena sang Keadilan Tuhan Yesus Kristus telah membenarkannya. Zacheus mengatakan separuh dari hartaku akan kuberikan kepada orang orang miskin. Apa arti kata separuh, bukankah berarti ada persamaan hak, menjadi sama. Itulah yang dilakukan oleh Yesus, Ia melepaskan haknya untuk menjadi sama dengan orang orang pilihannya.

Yesus mengajarkan bila kamu memiliki 2 pakaian berilah satu kepada sesamamu. Suatu fakta di dunia ini orang memiliki harta lebih dari satu, ada yang memiliki rumah 10 unit, apa yang terjadi kalau yang Sembilan itu diberikan kepada orang miskin, maka akan terjadi persamaan hak di dunia ini, tetapi masalahnya manusia tidak ingin sama, karena keadilan yang diajarkan dunia adalah keadilan normative, siapa yang bekerja keras maka ia berhak atas  hak kekayaan itu.  Siapa yang pintar, sukses, berprestasi itulah yang berhak, yang penting bagi mereka, mereka merasa aman dengan memiliki agama dan perbuatan baik. Maka semboyan manusia tentang keadilan berbanding terbalik dengan  makna keadilan Allah.  Semboyan yang diusung oleh para pemimpin dunia ini dalam semua bidang umumnya mengusung semboyan yang berkata :  MEMBERANTAS KEMISKINAN, MEMBERANTAS KEBODOHAN! Apa yang terlintas di pikiran anda bila mendengar kata MEMBERANTAS? Suatu yang kita berantas adalah sesuatu yang kita benci dan musuhi, bukan? Tuhan Yesus datang dengan ajaran baru yang dianggap aneh oleh manusia di dunia ini, Kalau manusia mau memberantas dan memusuhi kemiskinan, Yesus melakukan hal yang sebaliknya, malah Ia bersahabat dengan kemiskinan, bahkan bukan itu saja!

Malah Ia menjadi miskin dan lebih miskin. Yang justru yang harus diberantas bukanlah kemiskinan, tetapi justru  MEMBERANTAS KEKAYAAN!  Apa arti memberantas kekayaan ? Memberantas kekayaan berarti memangkas kekayaan, minimal 50% seperti  tindakan pertobatan  Zacheus dan dibagikan kepada orang miskin, sehingga  keadilan Allah bisa dinyatakan di dunia ini, maka  persamaan  hak bisa diiwujudkan di muka bumi ini. Yesus mengecam orang orang kaya apapun agamanya yang menganggap  keadilan normative ciptaannya menjadi alat pembenar bagi mereka untuk menimbun kekayaan, dengan dalih bahwa kekayaan yang mereka timbun adalah hasil kerja keras, hasil prestasi kepintaran mereka dan mengabaikan keadilan Allah yang substantive.

Bila  anda diminta untuk memilih jadi orang kaya atau orang miskin?  Secara normal  orang akan memilih jadi orang kaya. Mengapa?? Karena  miskin adalah suatu momok yang menakutkan bagi manusia., Suatu yang harus dibenci, dijauhi, diberantas atau dimusuhi. Maka tidaklah mengherankan kalau semboyan memberantas kemiskinan  sangat didukung oleh semua manusia di dunia ini. Keadaan miskin adalah musuh bagi manusia. Di tengah suasana seperti inilah  Tuhan Yesus mengatakan : Kasihilah Musuhmu. ( kata musuh di sini adalah dalam konteks keadaan miskin yang dibenci manusia ). Karena  kepada Iblis, musuh utama Yesus dengan tegas Yesus mengatakan lawanlah Iblis, bukan kasihilah Iblis!   Menjadi kaya merupakan suatu keadaan yang sangat dikagumi oleh setiap orang dan orang berupaya bersahabat dengannya, sebaliknya menjadi miskin adalah sesuatu yang dihina orang dan orang berusaha menjauhi/memberantas dan memusuhinya.

Selaku hamba Kristus saya memilih pilihan ini. Mungkin anda menganggap penulis orang yang abnormal!  Rasul Paulus mengatakan dalam beberapa tulisannya  Ia mengatakan bahwa apa yang dikagumi manusia dibenci Allah, sebaliknya apa yang dihina manusia dikagumi Allah. Kiranya kita diberikan hikmat dalam memilih prioritas hidup, apakah kita memilih hidup kaya/ nyaman di dunia ini paling lama 100 tahun kemudian siksaan abadi di neraka atau  hidup miskin sementara, tetapi mewarisi  hidup di surga ribuan tahun, jutaan tahun bahkan milyaran tahun tak terbatas. Yang jelas salah satu harus dipilih. Selamat memilih! Amin.

 

Bookmark the permalink.

2 Responses to ORANG MISKIN VS ORANG KAYA

  1. Alfredo Mewengkang, M.Th says:

    Kata “Miskin” dlm Matius dlm bahasa Yunani bermakna jasmani & rohani, jadi sebaiknya lengkap, shg sesuai konteks. Arti miskin di ayat ini adalah miskin total secara harta, status sosial & kemanusiaan serta rohani. Org semacam ini hanya satu yg dilakukannya, yakni bergantung pada Allah 100%, krn dia hanya bergantung kepada Allah, dan itu disenangi Allah, shg disebut berbahagialah org yg miskin. Silo, M.Th-pengajar bid. Okultisme, Inerrancy Alkitab

  2. Dito says:

    Jika premis yang Bapak susun dianggap sebagai suatu kebenaran, bagaimana dengan status Abraham, Yusuf, Boas, Daud, Daniel, Ester, Ayub dan tokoh-tokoh Alkitab pada masa lalu? Apakah mereka termasuk orang kaya atau orang miskin? Apakah mereka masuk kelompok Penes/penechros atau bahkan ptochos? Atau merupakan kebalikan dari kedua kelompok kemiskinan tersebut?

    Namun simak kembali kata miskin dalam Matius 5: 3 adalah poor in spirit,

    The poor in spirit are not lacking in spirit, but have the positive moral quality of humility, realizing they have nothing to offer God but are in need of his free gifts.

    Jadi seperti disampaikan Pak Alfredo: Orang semacam ini hanya satu yang dilakukannya, yakni bergantung pada Allah 100%, karena itu semua (keselamatan dan kerajaan surga) diperoleh bukan dari hasil jerih lelah dan usaha “baik”mu, melainkan diperoleh cuma-cuma (free gifts) oleh karena kasih karunia bagi orang yang “poor in spirit”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>