Orang Benar Hidup Oleh Percayanya

Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Bacaan : Hab. 1:1-4, 2:1-4; Mzm. 119:137-144; II Tes. 1:1-4, 11-12; Luk. 19:1-10

Langkah perjalanan dan pelayanan Tuhan Yesus senantiasa diikuti oleh orang banyak, demikian kesaksian kitab Injil-Injil. Sebagai pribadi di tengah-tengah bangsaNya, Yesus ternyata memiliki kharisma yang memiliki daya tarik magnet yang luar biasa sehingga orang banyak senantiasa mengikuti Dia ke manapun Dia pergi. Ketika orang banyak melihat bahwa Tuhan Yesus dapat menyembuhkan seorang buta, maka orang banyak segera memberikan respon yang positif. Di Luk. 18:43, disebutkan: “Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah”. Demikian pula ketika Tuhan Yesus masuk ke kota Yerikho. Orang banyak terus mengerumuni Dia. Namun di Yerikho terjadi sesuatu yang tidak lazim. Sebab seorang kepala pemungut cukai bernama Zakheus juga ingin mendekat dan melihat secara langsung diri Yesus. Namun selain Zakheus terhalang oleh keterbatasan tubuhnya yang pendek, dia juga terhalang oleh kerumunan orang banyak. Apakah kerumunan orang banyak tersebut secara kuantitatif menjadi penghalang bagi Zakheus untuk mendekat kepada Yesus; ataukah juga pada saat yang sama orang banyak secara psikologis secara sengaja membuat penolakan terhadap diri Zakheus? Sikap orang banyak tersebut sebenarnya dapat dipahami sebab Zakheus waktu itu menjadi Kepala Pemungut Cukai yang pada zaman itu sangat dibenci oleh rakyat. Selain seorang pemungut cukai pada zaman itu dianggap sebagai kaki tangan penjajah bangsa Romawi, mereka juga dalam praktek di lapangan sering menjadi para lintah darat yang kejam dan suka memeras orang-orang yang lemah.

Perilaku para pemungut cukai yang kejam dan suka memeras orang-orang lemah mengingatkan kita akan karya William Shakespeare yang berjudul “The Merchant of Venice” (Pedagang dari Venisia) yang ditulis sekitar tahun 1596. Dalam karya Shakespeare tersebut dikisahkan seorang kreditor Yahudi bernama Shylock yang memberi pinjaman hutang kepada Antonio. Tetapi Antonio ternyata tidak mampu membayar seluruh hutangnya sebab bunga yang diberikan oleh Shylock begitu tinggi. Sehingga Shylock meminta kepada pengadilan agar membela perkaranya. Tuntutan Shylock sangat mengerikan, karena dia minta potongan daging dari tubuh Antonio sebanyak satu pon. Kasus ini menjadi menarik karena sahabat Antonio yaitu Bassanio memiliki seorang tunangan bernama Portia, dan Portia yang mengetahui masalah tersebut segera menyamar menjadi hakim yang membela kasus Antonio. Sebagai hakim, Portia menyetujui Shylock untuk memotong daging Antonio sebanyak satu pon asalkan darah Antonio tidak boleh tertumpah pada waktu tubuhnya dipotong . Tentu saja keputusan Portia tersebut tidak dapat diwujudkan oleh Shylock. Akhirnya Shylock dihukum karena tuntutannya yang kejam dan jahat. Shylock termakan oleh perkataan dan tuntutannya sendiri. Kisah dari William Shakespeare tersebut hendak mengungkapkan perilaku orang-orang Yahudi yang waktu itu sering memeras, mengancam dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya; dan sikap tersebut bertolak belakang dari prinsip iman Kristen yang mengedepankan sikap belas-kasihan, kemurahan hati dan pengampunan. Sehingga manakala kita membaca kisah Injil, sebenarnya dapat dipahami alasan mengapa orang banyak sering menolak dan membenci para pemungut cukai. Kini di Luk. 19:3 ketika orang banyak melihat Zakheus, yang mereka kenal menjadi kepala pemungut cukai; maka dengan segera orang banyak menghalangi Zakheus agar dia pergi menjauh dari mereka dan tidak dapat mendekat kepada Yesus. Perasaan antipati dan benci akan menguat ketika orang yang kita benci mencoba untuk mendekat dan masuk di tengah-tengah komunitas kita. Itu sebabnya Zakheus segera mendahului orang banyak, lalu dia memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di dekatnya.

Sebenarnya Zakheus hanya ingin melihat diri Tuhan Yesus dari kejauhan saja. Dia tidak berharap banyak dapat berbicara apalagi mengenal diri Yesus. Tetapi ketika Yesus sampai di dekat pohon ara tersebut, Yesus tiba-tiba melihat ke atas dan memanggil namanya: “Zakheus, segeralah turun sebab hari ini aku harus menumpang di rumahmu” (Luk. 19:5). Panggilan Yesus tersebut saat itu tentu membuat Zakheus menjadi tersentak dan kemudian dia bersukacita. Ternyata dia dikenal oleh Yesus sehingga Yesus memanggil namanya; dan sekarang Yesus yang dikagumi oleh orang banyak itu berkenan untuk berteman dan mau datang ke rumahnya. Zakheus tidak menyangka bahwa sikap Tuhan Yesus demikian luar biasa. Penuh sentuhan, sangat berwibawa dan ramah. Kesediaan Tuhan Yesus yang mau tinggal di rumahnya dapat dianggap oleh Zakheus sebagai tanda bahwa Tuhan Yesus bersedia menjadi bagian dalam kehidupan keluarga dan dirinya. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus tersebut ternyata mengakibatkan suatu perubahan yang luar biasa dalam kehidupan Zakheus. Sehingga Zakheus berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk. 19:8). Perubahan hidup yang total dari kehidupan Zakheus tersebut menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Tuhan Yesus telah melahirkan sikap iman yang transformatif. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus telah memampukan Zakheus untuk menemukan dirinya dan membuka kesadaran serta perspektif baru yang menyeluruh terhadap semua kesalahan dan dosanya, sehingga Zakheus berani memutuskan untuk memberikan setengah dari seluruh hati miliknya kepada orang miskin dan dia bersedia mengganti orang yang pernah diperasnya sebanyak 4 kali lipat. Menurut hukum Taurat, seseorang yang memeras atas sesamanya haruslah dia memulangkan barang tersebut dengan membayar ganti rugi sebanyak 20%. Bandingkan dengan Im. 6:1-5; yang di Im. 6:5 hukum Taurat berkata: “Haruslah ia membayar gantinya sepenuhnya dengan menambah seperlima; haruslah ia menyerahkannya kepada pemiliknya pada hari ia mempersembahkan korban penebus salahnya”. Dalam hal ini Zakheus tidak hanya mengganti seperlima sebagaimana ditentukan oleh hukum Taurat tetapi dia mau mengganti 4 kali lipat (400%) !

Apabila Zakheus mengalami perubahan hidup yang luar biasa dengan sikap imannya yang transformatif, maka sebaliknya orang banyak yang melihat sikap Tuhan Yesus memberikan reaksi yang sangat negatif. Disebutkan sikap orang banyak tersebut, yaitu: “Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: Ia menumpang di rumah orang berdosa” (Luk. 19:7). Semula orang banyak sangat mengagumi Tuhan Yesus, dan mau mengikut ke mana saja Dia pergi. Tetapi kekaguman orang banyak kepada diri Tuhan Yesus tersebut ternyata tidak pernah melahirkan sikap iman. Orang banyak senantiasa mengikuti langkah Tuhan Yesus berjalan, tetapi mereka tidak pernah sampai mengalami perubahan hidup dan pertobatan. Justru sikap orang banyak itu mencerminkan sikap umat Israel ketika mereka masih berjalan di padang gurun. Mereka bersungut-sungut dengan memberi ungkapan yang sinis dan penuh rasa amarah kepada Tuhan Yesus, yaitu ungkapan: “Ia menumpang di rumah orang berdosa”. Orang banyak merasa dirinya sebagai orang benar dan lebih bersih, tetapi mereka pada saat yang sama memberi vonis yang kekal kepada Zakheus sebagai “orang berdosa”. Padahal kini situasi telah menjadi terbalik! Zakheus yang semula seorang yang berdosa, kini dia telah berubah menjadi seorang yang penuh kemurahan dan belas-kasihan. Sebaliknya orang banyak yang merasa dirinya benar dan lebih bersih tetap menjadi sekelompok orang-orang yang iri-hati, penuh kebencian dan tidak mengalami perubahan apapun yang berarti. Zakheus yang semula tidak takut akan Allah, kini setelah dia berjumpa dengan Kristus, dia memiliki iman yang transformatif yaitu iman yang membuat dia berani melepaskan segala hal yang duniawi dan bersedia memberdayakan kembali orang-orang yang pernah diperdayakan. Sebaliknya orang banyak tetap dalam situasi hidup yang lama, yaitu cenderung untuk selalu menyudutkan dan menghakimi sesama tanpa belas-kasihan. Itu sebabnya berita anugerah Allah ditujukan Tuhan Yesus kepada Zakheus, bukan kepada orang banyak. Tuhan Yesus berkata: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham” (Luk. 19:9).

Memang dalam pelayananNya Tuhan Yesus senantiasa dikelilingi oleh orang banyak. Tetapi Tuhan Yesus tidak pernah memposisikan diriNya sebagai bagian dari orang banyak. Dia memposisikan diriNya secara unik, sangat khusus dan tampil beda dalam spiritualitas di tengah-tengah orang banyak. Apabila orang banyak memiliki kecenderungan untuk merasa diri mereka lebih benar dengan menyudutkan seorang yang dianggap buruk, maka sebaliknya Tuhan Yesus menyatakan diriNya: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Tuhan Yesus memposisikan diriNya untuk senantiasa mencari dan menyelamatkan orang-orang yang dianggap tidak memiliki pengharapan, yang dianggap tidak memiliki kesempatan untuk hidup baru dan orang-orang yang dianggap menjadi “sampah masyarakat”. Bagi Tuhan Yesus, mereka ternyata memiliki potensi untuk berubah dan menyambuh anugerah keselamatan Allah. Dalam kehidupan orang-orang yang buruk dan jahat sekalipun, ternyata tetap terbuka kemungkinan dan harapan untuk berubah dan melakukan “hal-hal yang baik”. Manakala mereka mau membuka diri terhadap Kristus, maka kehidupan mereka yang lama akan segera ditransformasikan. Sebaliknya Tuhan Yesus mau mengingatkan bahwa orang banyak yang merasa dirinya benar dan baik, justru mereka sering kehilangan kemampuan untuk berbuat baik sehingga mereka gagal memerankan diri sebagai kawan sekerja Allah yang menyelamatkan sesamanya. Orang banyak di sini sebagai simbolisasi kelompok mayoritas yang gagal berjumpa dengan Tuhan Yesus secara pribadi dan transformatif karena mereka lebih terikat oleh kekuatan kolektivitas dan pandangan umum yang berlaku. Itu sebabnya walaupun mereka sering mengikuti langkah pelayanan Tuhan Yesus, mereka tidak pernah mengalami transformasi iman. Secara fisik mereka dapat dekat dengan Tuhan Yesus, tetapi mereka tidak pernah memiliki kedekatan hati dan spiritualitas Tuhan Yesus. Dalam hal ini orang banyak tidak mampu hidup dengan iman kepada Kristus. Mereka hanya kagum akan kuasa mukjizat, kuasa ilahi dan kharisma diriNya sebagai seorang pemimpin; tetapi hati mereka tetap tertutup untuk diselamatkan.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita sebagai persekutuan jemaat berlaku seperti orang banyak yang kagum dan ingin mengikuti setiap langkah pelayanan Kristus. Itu sebabnya selaku jemaat kita juga tetap berbondong-bondong untuk mengikuti kebaktian, tetapi pola kehidupan iman kita sering tidak transformatif. Kita mampu untuk khidmat beribadah, tetapi juga kita sangat mudah mencerca sesama sebagai orang berdosa. Kita mengikuti setiap program pelayanan gerejawi, tetapi juga kita sangat mudah bersungut-sungut dan marah ketika keinginan kita tidak terpenuhi. Kehidupan kita secara fisik sering berada di lingkungan rumah Tuhan yaitu sebagai persekutuan Tubuh Kristus, tetapi hati kita sangat jauh dan asing dari karya keselamatan Kristus. Jadi kita dapat bersentuhan secara fisik dengan “Tubuh Kristus” yaitu jemaatNya, tetapi spiritualitas kita tetap menggunakan pola duniawi dan tidak pernah berubah dalam sikap pertobatan seperti yang pernah terjadi pada diri Zakheus. Seandainya kita dahulu sebelum Kristen berperan sebagai seorang yang suka memeras, ternyata kita tetap menjadi pemeras walau saat ini kita telah mengenal ajaran dan prinsip iman Kristen. Seandainya kita dahulu seorang yang suka mengancam dan mengintimidasi sesama, ternyata setelah kita menjadi “orang percaya” karakter dan tingkah laku kita tidak pernah berubah sedikitpun. Bahkan setelah kita menjadi persekutuan jemaat, kita justru sering menjadi penghalang bagi orang lain untuk berjumpa dengan Kristus. Jadi sikap kita sering seperti orang banyak yang menghalangi seorang pendosa seperti Zakheus untuk berjumpa dan mengenal Kristus. Itu sebabnya kita lebih cenderung mengembangkan sikap yang mudah memberi stigma kepada orang-orang tertentu sebagai “orang berdosa”. Sekali kita memberi stigma buruk kepada seorang, maka stigma buruk tersebut tidak pernah terhapus walaupun dia telah mengalami perubahan total seperti Zakheus. Dalam situasi yang demikian Kristus justru hadir untuk menghapus dan memulihkan mereka. Kristus memberi pengharapan baru dan perubahan hidup dengan menghapus setiap stigma yang telah dilekatkan oleh orang banyak atau masyarakat. Sebab “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Di dalam kasihNya Kristus mengubah setiap stigma yang buruk menjadi suatu predikat baru dan mulia sebagai “anak-anak Allah”.

Nabi Habakuk juga melihat bagaimana Israel sebagai umat Allah hidup dalam kelaliman dan suka menindas sesamanya yang lemah, sehingga hukum kehilangan kekuatannya dan keadilan diputar-balikkan (Hab. 1:4). Allah kemudian menghukum umat Israel dengan menyerahkan mereka ke tangan orang Kasdim. Tetapi ternyata orang Kasdim yang menjadi alat Allah tersebut ternyata berlaku lebih jahat lagi. Mereka membunuh banyak orang dengan kejam dan tanpa belas-kasihan. Nabi Habakuk bergumul dengan tragedi dan penderitaan umat Israel, dan dia menunggu Allah untuk bertindak menyelamatkan umatNya. Allah kemudian menyuruh nabi Habakuk untuk menuliskan penglihatan, sebab penglihatan itu masih menanti saatnya (Hab. 2:3). Dalam menantikan saat Allah bertindak, umat Israel dipanggil untuk hidup dalam iman. Di Hab. 2:4, Allah berfirman: “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya”. Nabi Habakuk diperintahkan Allah untuk menyampaikan firman agar umat Israel yang ditindas dan diperlakukan kejam oleh bangsa Kasdim bersedia semakin merendahkan diri di hadapan Allah dan agar mereka makin percaya kepada Allah. Sebab Allah akan memperhitungkan sikap iman umatNya, dan karena sikap iman mereka Allah akan segera melepaskan dan menolong mereka. Jadi dalam konteks ini umat Israel sebagai gambaran mayoritas orang banyak yang semula hidup dalam kelaliman dan suka menindas dipanggil oleh Allah untuk mau berubah dan bertobat dengan hidup berdasarkan iman yang transformatif. Apabila mereka sebagai kelompok umat yang pernah membangkang dan melawan Allah dengan melakukan segala hal yang jahat sehingga Allah menghukum mereka, maka kini Allah berkenan memberikan pengharapan baru untuk menolong dan menyelamatkan mereka, asalkan mereka sungguh-sungguh hidup dalam sikap iman, yaitu sikap pertobatan.

Sikap umat Israel sebagai kelompok umat Allah juga mencerminkan situasi kita sebagai umat Allah yang telah ditebus oleh Kristus. Walaupun kita telah ditebus oleh Kristus, kita sering masih memberlakukan kelaliman, sikap menindas dan melakukan kekerasan kepada sesama di sekitar kita. Itu sebabnya Allah kemudian meninggalkan kita dan membiarkan kita menderita. Dalam situasi yang demikian, Allah berkenan memberikan pengharapan baru dan keselamatan asalkan kehidupan kita kini sungguh-sungguh dilandasi oleh sikap iman yang lebih murni, kredibel dan setia kepada Kristus. Sikap iman yang dimaksud telah jelas, yaitu sikap iman yang transformatif sebagaimana yang telah dilakukan oleh Zakheus. Selaku persekutuan “orang banyak” yang terhisab dalam tubuh jemaat, kita dipanggil bukan hanya berlaku seperti orang banyak yang hanya mampu kagum, penuh sorak-sorai dan mengikuti setiap langkah pelayanan gerejawi; tetapi lebih dari pada itu apakah kita mau mengalami perjumpaan personal dengan Kristus, yaitu sikap hidup yang ditandai oleh perubahan hidup dan pertobatan. Kita tidak lagi boleh merasa cukup telah berada di lingkungan “Tubuh Kristus” yaitu jemaatNya secara fisik, tetapi apakah kita juga telah mengalami suatu perjumpaan spiritual dengan Kristus? Beranikah kita mengambil keputusan seperti Zakheus yang dengan tulus melepaskan segala harta milik yang telah kita ambil secara tidak halal? Beranikah kita untuk mengambil keputusan dan suatu aksi yang nyata untuk mengembalikan harta milik yang pernah kita peroleh dengan cara kekerasan dan tidak jujur? Maukah kita sungguh-sungguh memberdayakan sesama yang pernah kita perdayakan atau yang pernah kita tipu? Jikalau kita tidak sanggup, tidak rela dan tidak mau; maka mungkin spiritualitas kita seperti orang banyak dalam kisah Injil. Mereka sangat kagum akan Kristus, tetapi mereka tidak hidup menurut iman. Padahal Allah hanya berpihak dan membenarkan setiap orang yang hidup menurut iman. Tanpa iman, tidak tersedia keselamatan walaupun mungkin kita seorang yang sangat religius, taat beribadah, dan melakukan berbagai peraturan keagamaan dengan setia. Sebab tanpa iman, segala hal yang baik dan mulia itu tidak lagi ditujukan kepada kemuliaan dan kebenaran Allah; tetapi sesungguhnya yang paling mendasar dari berbagai perbuatan baik tersebut kita tujukan hanya untuk kemuliaan dan kebenaran diri kita sendiri. Itu sebabnya kita sering merasa selalu benar dan rohani, sehingga kita tidak merasa perlu membutuhkan Kristus selaku Juru-selamat. Justru di sanalah letak perbedaan spiritualitas kita yang paling mendasar dengan Zakheus . Dia sangat membutuhkan seorang Juru-selamat dan bersedia diubah hidupnya oleh Kristus. Itu sebabnya kepada orang-orang seperti Zakheus, Tuhan Yesus berkata: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham” (Luk. 19:9). Jadi bagaimanakah sikap saudara sekarang? Amin.

Bookmark the permalink.

One Response to Orang Benar Hidup Oleh Percayanya

  1. Imanuel Madia Sakti says:

    Sangat memberkati sekali bapak Pst. Yohanes Bambang Mulyono. Beberapa hari yang lalu, saya baru saja membaca The Merchant of Venice, seperti yang Bapak jelaskan tentang seorang Shylock seorang kreditor yang kejam, dan hari ini saya belajar tentang Zakheus yang merupakan Kepala Pemungut Cukai yang menerima Kristus, mengalami transformasi iman. Sungguh Tuhan luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>